
Seorang pria datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan
merapikan jambangnya. Sambil mulai memotong rambut pria tersebut,
tukang cukur itu mengajak konsumennya itu untuk memperbincangkan
sejumlah topik yang hangat. Mulai dari soal cuaca, beralih ke
situasi ekonomi, menteri-menteri yang tak becus bekerja, harga BBM
yang makin mahal tak karuan, dan akhirnya perbincangan sampai ke
soal-soal iman dan keberadaan Tuhan.
"Saya tidak percaya Tuhan itu ada," kata tukang cukur mantap. Seolah-
olah ia sudah memeriksa alam semesta dan tidak berhasil menemukan
Tuhan.
"Kenapa kamu berkata begitu ?" timpal si konsumen.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan. Katakan
kepadaku, jika Tuhan itu ada, mengapa ada orang sakit? Mengapa ada
anak-anak terlantar? Mengapa ada orang jahat, perang dan bencana?
Mengapa koruptor bebas berkeliaran, sementara orang jujur hidup
dalam kesusahan? Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha
Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi, kalau IA benar-benar
ada. Iya 'kan?"
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak menemukan
jawaban yang tepat. Ia tak ingin berdebat kusir. Apalagi tukang
cukur telah menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah membayar, pria itu pergi meninggalkan tempat si tukang
cukur. Baru beberapa langkah dari tempatnya bercukur, ia melihat ada
orang-orang di jalan dengan rambut yang panjang dan terurus. Ada
juga yang rambutnya berombak kasar, ada yang keriting, dan semuanya
nampak begitu kotor. Sebagian orang nampak memiliki jambang yang tak
terpelihara, kusut tak karuan.
Pria itu seolah-olah mendapatkan ilham. Ia kembali ke tempat tukang
cukur dan berkata,"Kamu tahu, sebenarnya tidak ada tukang cukur di
kota ini."
Terkejut dengan pernyataan itu, si tukang cukur bertanya, "Kamu kok
bisa bilang begitu? Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan
saya mencukurmu! Apa itu tidak cukup jelas?"
"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika
ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang dan kotor,
berjambang kusut tak karuan seperti orang-orang yang di luar sana."
"Oh, itu salah mereka sendiri. Kalau mereka datang pada saya dan
bercukur, mereka pasti akan nampak lebih rapi," sanggah si tukang
cukur.
"Persis!" kata pria yang habis bercukur itu. "Itulah pesan utamanya.
Sama dengan Tuhan yang Anda katakan tadi. Tuhan itu ada. Tetapi,
banyak orang tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya,
sehingga hidup mereka dibebani banyak masalah."
Si tukang cukur terbengong!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar