Senin, November 17, 2025

Jarak Sedekat Ini

Jarak Sedekat Ini

Jarak Sedekat Ini

Suara kucing makan jam tiga pagi. Crunch, crunch, crunch—ritme mekanis dari mulut kecil di kegelapan. Saya tidak bangun untuk melihat. Saya tahu suara itu, tahu jarak antara mangkuk dan kamar saya: tujuh meter, mungkin delapan.

Tangan ayah mengelus punggung kucing. Memori ini datang tanpa konteks—hanya gesture, di teras rumah yang sudah tidak ada lagi. Kucing apa? Saya tidak ingat. Yang tersisa: gerakan tangan, perlahan, dari kepala ke ekor.

Notifikasi di ponsel kemarin sore: "Pak, kucingnya berisik malam-malam. Tolong dijaga." Dari tetangga sebelah yang tidak pernah saya ajak bicara lebih dari tiga kalimat. Saya balas: "Maaf, akan saya perhatikan." Saya tidak tahu kucing saya berisik. Atau mungkin saya sudah terlalu terbiasa.

Sekarang: saya menatap mangkuk kosong di lantai dapur. Stainless steel, diameter lima belas sentimeter, sedikit penyok di pinggir. Ada kucing di rumah ini. Atau dulu ada. Atau akan ada.

I

Saya mengikuti kucing asing masuk gang. Ini bukan kucing saya. Ini kucing belang tiga warna—putih, oranye, hitam dalam pola yang tidak simetris. Kaki belakang kirinya cacat, lebih pendek, jalan timpang dengan ritme aneh: tap-tap-drag, tap-tap-drag.

Saya tidak tahu kenapa mengikutinya. Baru pulang dari minimarket, plastik kresek berisi susu kotak dan roti tawar di tangan kanan. Kucing itu lewat, saya ikut. Sesederhana itu.

Gangnya sempit, tembok kiri-kanan penuh coretan dan poster kampanye lusuh. Kucing berhenti di depan toko tutup—rolling door berkarat setengah turun. Dia melirik ke belakang, satu detik, mata kuning bertemu mata saya. Lalu menyelinap masuk lewat celah bawah.

Saya berdiri di situ. Plastik kresek menggantung di tangan. Tidak ada yang istimewa dari momen ini—hanya saya dan toko tutup dan suara motor dari jalan besar. Lima belas menit berlalu. Saya tidak tahu apa yang saya tunggu.

Akhirnya saya berbalik pulang. Kucing saya di rumah pasti sudah lapar. Atau tidak. Dia tidak pernah mengeong minta makan. Dia hanya datang ke mangkuk saat saya tidak ada.

II

"Kucing ini suka dipeluk?"

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Ya tergantung kucingnya mau atau tidak."

Penjualnya perempuan muda, rambut dikuncir, pakai apron biru dengan logo pet shop. Di belakangnya deretan kandang kaca. Anak kucing Persia, Scottish Fold, British Shorthair—semua dengan label harga yang membuat saya berpikir dua kali.

Bau antiseptik bercampur bau litter dan dry food. AC terlalu dingin. Musik instrumental mengalun pelan dari speaker sudut ruangan—piano, tanpa vokal, tanpa gairah.

"Mau lihat yang mana, Pak?"

"Tidak jadi. Terima kasih."

Saya keluar. Hujan gerimis. Saya tidak bawa payung.

III

Buku panduan merawat kucing Persia masih tergeletak di meja. Sampul glossy dengan foto kucing putih—bulu sempurna, mata biru, duduk di atas bantal beludru. Saya beli tiga tahun lalu, dibaca separuh, tidak pernah dituntaskan.

Saya buka halaman acak. Halaman 47: "Sisir bulu setiap hari dengan sisir khusus untuk mencegah matting. Persia memiliki undercoat tebal yang mudah kusut."

Kucing kampung di rumah masa kecil tidak pernah disisir. Bulunya pendek, kasar, selalu kotor karena main di tanah. Sehat-sehat saja sampai menghilang suatu hari. Tidak ada yang tahu kemana.

Halaman 62: "Jaga temperatur ruangan antara 20-24 derajat Celsius. Persia sensitif terhadap panas."

Kucing-kucing di kampung tidur di got saat siang terik. Tergeletak di semen panas. Bergerombol di bawah mobil. Tidak ada yang peduli temperatur.

Halaman 89: "Persia membutuhkan perhatian khusus dan interaksi rutin dengan pemilik. Mereka adalah kucing yang people-oriented."

Kucing saya sekarang tidur di dalam kardus bekas. Bukan di tempat tidur orthopedic seharga setengah juta yang saya beli bulan lalu. Kardus itu saya taruh di sudut ruangan untuk dibuang, tapi dia masuk dan tidak mau keluar. Sudah dua bulan kardus itu jadi tempat tidurnya.

Saya tutup bukunya. Saya tidak tahu kucing saya. Saya tahu jenis kucing saya. Ini beda.

IV

Tetangga sebelah pindah Kamis malam. Suara furniture diseret, pintu terbuka-tutup, suara lakban digulung, kardus-kardus ditumpuk. Tembok apartemen tipis—semua terdengar seperti terjadi di ruangan saya sendiri.

Saya mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka. Dia—laki-laki, tiga puluhan, selalu pakai kemeja bahkan di rumah—sedang membawa cat carrier. Di dalamnya: kucing Scottish Fold abu-abu yang pernah saya lihat dua atau tiga kali di koridor.

Kami tidak pernah bicara lebih dari "Permisi" atau "Selamat pagi". Dia lewat dengan carrier-nya. Kucing di dalamnya menatap saya—satu detik, mungkin kurang—lalu dia menghilang di belokan tangga.

Tidak ada perpisahan. Kenapa harus ada?

Saya tutup pintu, kembali ke ruang tamu. Kucing saya tidak ada di tempat biasa—sudut sofa, dekat jendela. Saya cek kamar: tidak ada. Kamar mandi: tidak ada. Panik kecil mulai muncul, irasional tapi nyata.

"Pussy... Pussy..."

Nama bodoh untuk kucing. Saya tidak memilihnya—dia sudah punya nama itu saat saya adopsi dari teman yang pindah ke luar kota. Terlalu repot menggantinya.

Saya temukan dia di balik kulkas. Menyelip di celah sempit antara kulkas dan tembok, hanya matanya yang kelihatan—dua titik hijau di kegelapan.

"Kenapa kamu di situ?"

Dia tidak jawab. Tentu saja. Saya biarkan dia di sana. Sejam kemudian, dia sudah kembali ke kardusnya.

V

Kucing masa kecil sebenarnya banyak. Bukan cuma satu seperti yang saya ingat selama ini. Ada yang kuning, ada yang hitam, ada yang belang. Tujuh atau delapan, saya tidak ingat persis. Mereka datang, tinggal beberapa bulan atau tahun, lalu hilang dengan cara berbeda-beda.

Yang kuning ditabrak motor. Yang hitam diberikan ke tetangga. Yang belang menghilang begitu saja. Sisanya—saya tidak ingat nasibnya.

Yang saya ingat dengan jelas: hanya satu. Kucing putih-cokelat yang tidur di pangkuan saya saat saya demam. Saya kelas empat SD, berbaring di kasur dengan termometer di ketiak, dan kucing itu datang sendiri, naik ke tempat tidur, meringkuk di perut saya.

Hangat. Itu yang saya ingat. Hangatnya bulu, berat badan kecil di atas perut, dengkuran halus yang terasa sampai ke tulang rusuk.

Kucing itu juga menghilang. Kapan? Saya tidak ingat. Kenapa saya tidak sedih? Mungkin saya sedih. Mungkin tidak cukup sedih untuk diingat.

Kita mengingat yang kita butuhkan untuk mengingat. Sisanya jadi kabur, jadi noise, jadi sesuatu yang pernah ada tapi tidak cukup penting untuk dipertahankan dalam memori. Ini bukan tentang cinta atau tidak cinta. Ini tentang kapasitas. Tentang seleksi.

Saya pernah mencintai tujuh atau delapan kucing. Sekarang saya hanya ingat satu. Apa artinya ini?

VI

Seorang pria menuang kibble ke mangkuk keramik pukul tujuh malam. Clink-clink-clink—suara butiran kering mengenai dasar mangkuk. Dia menunggu di dapur, bersandar ke meja, tangan di saku. Kucing tidak datang.

Lima menit berlalu. Pria kembali ke sofa, membuka laptop, tidak mengerjakan apa-apa.

Pukul delapan: mangkuk masih penuh. Kucing terlihat sekilas di koridor, lalu menghilang ke kamar.

Pukul sepuluh: pria cek mangkuk lagi. Masih penuh. Dia ganti air di mangkuk sebelah—air bersih, dingin dari kulkas. Kucing suka air dingin. Atau mungkin tidak. Pria tidak pernah yakin.

Pukul sebelas: pria tidur. Mangkuk tetap penuh.


Besoknya: ritual yang sama. Pria menuang kibble, menunggu, kembali ke sofa. Kucing tidak datang saat dia ada.

Pria pergi kerja pukul sembilan pagi. Pulang pukul enam sore: mangkuk kosong. Kucing sudah makan. Kapan? Pria tidak tahu. Tidak ada saksi.


Hari ketiga: sama.

Hari keempat: pria mencoba tidak menunggu. Tuang kibble, langsung pergi. Tapi dia tetap cek dari kejauhan—berdiri di pintu kamar, mengintip ke dapur. Kucing tidak datang.

Hari kelima: pria lupa menuang kibble. Baru ingat pukul sepuluh malam. Dia tuang terburu-buru, merasa bersalah. Kucing tetap tidak datang saat dia ada.

Hari keenam: ritual kembali seperti semula.

Hari ketujuh: pria mulai bertanya-tanya apakah kucing tahu dia ada atau tidak.

VII

Suatu hari kucing akan duduk di pangkuan. Saya akan sedang menonton sesuatu di laptop, atau membaca, atau tidak melakukan apa-apa, dan dia akan datang sendiri, melompat ke sofa, meringkuk di paha. Hangat. Berat. Nyata.

Atau: suatu hari kucing akan pergi dan tidak kembali. Saya akan pulang kerja, apartemen kosong, kardus kosong, mangkuk tidak tersentuh. Saya akan tunggu satu hari, dua hari, seminggu. Tidak ada yang tahu kemana.

Atau: suatu hari saya akan lupa memberi makan. Bukan sekali—berkali-kali. Mangkuk kosong seharian, dua hari, tiga hari. Kucing akan diam saja, tidak mengeong, tidak protes, sampai akhirnya ada yang salah dan semuanya terlambat.

Atau: suatu hari tidak ada bedanya. Rutinitas akan terus seperti sekarang—saya tuang kibble, kucing makan saat saya tidak ada, kami hidup di apartemen yang sama dengan jarak yang sama, delapan puluh sentimeter atau tujuh meter atau satu tembok, sampai salah satu dari kami mati lebih dulu.


Sekarang: kucing di window sill, saya di dapur. Punggungnya menghadap saya—bulu putih keperakan, sedikit kusut di bagian ekor. Dia menatap keluar jendela. Apa yang dia lihat? Gedung seberang, langit mendung, burung sesekali lewat.

Saya tidak bergerak. Dia tidak menoleh.

Jarak antara kami: delapan puluh sentimeter. Saya pernah mengukurnya dengan meteran—random act suatu Minggu sore yang membosankan. Dari ujung kaki saya berdiri di dapur sampai window sill tempat dia biasa duduk: delapan puluh sentimeter, tiga sentimeter lebih atau kurang tergantung posisi persis saya berdiri.

Besok, mungkin tujuh puluh sembilan sentimeter. Atau delapan puluh satu.

Tidak ada komentar: