Pot Terakota di Sudut Balkon
Tentang Merawat yang Tidak Kembali
I.
Ada retakan kecil di pot terakota itu—garis tipis yang merayap dari bibir ke dasar seperti urat yang terlihat di punggung tangan orang tua. Aku menemukannya pagi ini saat menyiram tanaman sanseviera yang sudah tiga tahun tinggal di sudut balkon. Retakan yang tidak ada kemarin. Atau mungkin sudah ada sejak lama, hanya saja aku baru mau melihat.
Ponselku bergetar di meja. Notifikasi dari aplikasi kencan yang sudah seminggu tidak kubuka. Foto profil seseorang dengan senyum yang terlalu lebar—jenis senyum yang membuat kamu curiga apakah ia benar-benar bahagia atau sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Aku geser ke kiri. Hilang.
Tapi kemudian ada pesan lain. Bukan dari aplikasi. Dari nomor yang tersimpan tanpa nama, hanya emoji daun. Kebiasaan lama—cara kami dulu menyimpan kontak satu sama lain agar orang lain tidak tahu. Seperti kode rahasia anak sekolah yang bermain mata-mata.
"Kamu masih rawat tanaman itu?"
Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi. Seperti biasa, ia langsung ke inti—seolah percakapan kami tidak terputus tiga tahun, seolah waktu adalah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.
Jempolku melayang di atas keyboard. Aku ingin menjawab: tentu saja aku masih merawatnya, kamu yang memberikannya. Tapi yang kuketik hanya: "Masih."
Satu kata. Kata yang paling aman untuk kebohongan dan kebenaran dalam waktu bersamaan.
II.
Lemari pakaianku pagi ini terasa seperti panggung teater yang salah kostum. Kemeja putih terlalu formal—seperti orang yang akan wawancara kerja, bukan bertemu kenangan. Kaos hitam terlalu kasual—seperti tidak peduli, padahal aku peduli. Terlalu peduli, mungkin.
Akhirnya: kemeja linen abu-abu. Tidak terlalu rapi, tidak terlalu berantakan. Seperti seseorang yang sudah move on tapi masih ingat alamat rumah masa lalunya. Kompromi sempurna antara pura-pura tidak peduli dan diam-diam berharap.
Aku berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Rambut yang mulai menipis di pelipis. Garis halus di sudut mata yang tidak ada tiga tahun lalu. Tubuh yang sama tapi entah kenapa terasa seperti milik orang lain—seperti menyewa kostum yang ukurannya hampir pas, tapi tidak sepenuhnya.
Motor menyala dengan suara yang familiar—dengung rendah yang sama sejak lima tahun lalu. Aku melaju pelan, terlalu pelan untuk ukuran jalanan Jakarta pagi ini. Di lampu merah pertama, tanganku sudah menyalakan sein kanan—tanda mau belok, pulang, batalkan semuanya. Tapi kemudian aku ingat: pot terakota itu. Tanaman yang masih hidup meski tidak pernah berbunga.
Aku matikan sein. Lurus terus. Seperti orang yang sudah terlanjur membuat janji dengan hantu.
III.
Kafe itu punya nama yang terlalu puitis untuk tempatnya yang sederhana: Rutinitas yang Tidak Rutin. Dinding bata ekspos, lampu Edison yang redup, dan aroma kopi manual brew yang terlalu asam untuk seleraku. Tapi aku datang juga—karena ia yang memilih, dan aku tidak pernah pandai menolak pilihannya.
Seperti dulu saat ia memilih tanaman sanseviera untuk balkonku.
"Tanaman ini kuat," katanya waktu itu. "Bisa hidup meski jarang disiram. Seperti kamu."
Aku tidak tahu apakah itu pujian atau diagnosis.
Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap jalan raya, ada seseorang yang duduk membelakangi pintu masuk. Rambut pendek sebahu. Gaya yang berbeda dari terakhir kali—dulu panjang, selalu dikepang. Tapi cara duduknya sama: punggung sedikit membungkuk, bahu kiri lebih tinggi dari kanan, jemari memainkan sedotan dalam gelas dengan gerakan memutar yang hipnotis.
Kebiasaan yang tidak berubah sejak kita pertama bertemu di kedai kopi lain empat tahun lalu.
Ia menoleh. Mata kami bertemu.
Dan aku menyadari: beberapa jarak tidak pernah benar-benar berkurang. Hanya cara kita mengukurnya yang berubah—dari meter menjadi tahun, dari ruang menjadi waktu.
"Kamu datang juga," ucapnya. Bukan pertanyaan. Pernyataan. Seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
"Aku datang." Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Seperti mendengar rekaman lama—familier tapi tidak sepenuhnya milikku.
Aku duduk. Meja kayu di antara kami terasa seperti perbatasan negara yang terlalu lama dijaga. Tanganku mencari tempat yang aman di permukaan meja—kebiasaan lama saat gugup: jemari mengetuk-ketuk pelan, ritme yang tidak teratur, seolah sedang mengetik pesan yang tidak pernah dikirim.
"Tanaman itu sehat?"
"Masih hidup. Tapi tidak pernah berbunga seperti yang kamu bilang."
Ia tersenyum. Senyum yang familiar—sedikit miring ke kiri, lebih banyak di mata daripada di bibir. Senyum orang yang tahu lelucon tapi tidak yakin apakah pantas tertawa.
"Sanseviera memang jarang berbunga. Hanya kalau kondisinya pas—tidak terlalu diperhatikan, tidak terlalu diabaikan." Ia mengaduk kopinya yang sudah dingin. "Seperti hubungan yang baik, mungkin."
IV. (Interlude: Tentang Tanaman dan Cara Kita Merawat yang Rapuh)
Aku ingat hari ia memberikan pot terakota itu.
Balkonku waktu itu kosong—hanya lantai keramik putih yang retak di beberapa sudut dan jemuran baju yang tidak pernah diangkat tepat waktu. Ia datang dengan pot di tangan kanan dan senyum yang sedikit malu di wajah.
"Aku pikir kamu butuh sesuatu yang hidup di sini," katanya sambil meletakkan pot di sudut. "Sesuatu yang tidak akan pergi meski kamu lupa menyiramnya."
Aku tertawa. "Kamu bilang aku sering lupa?"
"Tidak sering. Hanya... kadang-kadang kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri." Ia menatapku dengan mata yang sulit kubaca—khawatir, atau mungkin sedih. "Dan aku tidak mau jadi orang yang terus-terusan mengingatkanmu untuk menyiram."
Waktu itu aku tidak mengerti. Aku pikir ia bicara tentang tanaman. Ternyata ia bicara tentang kita.
Menurut panduan merawat sanseviera, tanaman ini bisa bertahan dalam kondisi minim cahaya dan air. Tanaman yang sempurna untuk orang yang tidak pandai berkomitmen pada rutinitas. Tanaman yang sempurna untuk orang sepertiku.
Tapi ada yang tidak ditulis dalam panduan itu: bertahan bukan berarti tumbuh subur. Bertahan hanya berarti belum mati.
Dan mungkin itulah yang terjadi pada hubungan kami. Kami bertahan—bertahan terlalu lama dalam kondisi minim cahaya, minim air, minim percakapan yang jujur. Sampai akhirnya yang tersisa hanya akar yang mengering dan daun yang menguning di ujung-ujungnya.
V.
"Aku tahu kamu tidak suka kopi asam."
Kata-kata itu datang tiba-tiba, memotong keheningan yang sudah terlalu lama menggantung di antara kami.
"Apa?"
"Manual brew di sini. Terlalu asam untukmu. Tapi kamu tetap pesan karena aku yang menyarankan." Ia menatap cangkirku yang belum tersentuh. "Kamu selalu begitu. Tidak pernah bilang tidak meski sebenarnya kamu tidak suka."
Aku diam. Karena ia benar. Karena aku memang tidak pernah pandai menolak—bukan hanya kopi, tapi juga keputusan-keputusan kecil yang akhirnya menumpuk menjadi jarak besar.
"Dulu aku pikir itu karena kamu pengertian," lanjutnya pelan. Suaranya turun—hampir berbisik, seperti mengaku dosa di ruang yang terlalu ramai untuk rahasia. "Ternyata kamu hanya tidak mau konflik. Kamu lebih suka diam dan mengalah daripada bicara dan berargumen."
"Kamu juga tidak pernah bertanya apakah aku suka atau tidak."
Kata-kata itu keluar sebelum otakku sempat menyensor. Jujur dengan cara yang paling telanjang. Jujur yang terlambat tiga tahun.
Ia berhenti mengaduk. Sendok berhenti di tengah lingkaran yang tidak selesai. Matanya menatapku—bukan dengan terkejut, tapi dengan sesuatu yang lebih rumit: pengertian yang terlambat.
"Kamu benar," akunya. "Aku tidak pernah bertanya. Aku hanya berasumsi."
Kami terdiam lagi. Tapi keheningan kali ini berbeda—bukan keheningan canggung orang asing, melainkan keheningan dua orang yang akhirnya mengerti: kita berdua salah dengan cara yang berbeda.
"Kenapa sekarang kamu mau bicara?" tanyanya lembut.
Aku menatap tangannya. Tidak ada lagi gelang anyaman warna-warni yang dulu selalu ia pakai—hadiah dari ibunya, katanya. Tangannya terlihat dewasa. Kami berdua sudah dewasa—atau setidaknya, lebih tua.
"Mungkin karena aku akhirnya paham: beberapa hal harus diucapkan meski tidak akan mengubah apa pun." Aku menarik napas panjang. "Seperti tanaman itu. Aku rawat bukan karena berharap akan berbunga. Aku rawat karena... karena itu satu-satunya cara aku ingat kamu tanpa harus menghubungimu."
VI.
Cangkir sudah kosong. Di luar, gerimis mulai turun—rintik-rintik halus yang mengetuk kaca jendela seperti seseorang yang mengetuk pintu tapi tidak yakin akan disambut. Dari speaker di sudut ruangan, lagu lama mengalun: Seperti Yang Kau Minta dari Chrisye. Lagu yang dulu sering kami dengar saat berkendara malam-malam—duduk berdua di motor, helm berbagi, aroma parfumnya tercampur asap knalpot.
Aku tidak pernah bilang bahwa aku menyukai lagu itu. Tidak pernah bilang banyak hal, sebenarnya.
"Aku senang kamu datang hari ini."
Suaranya hampir tenggelam dalam suara hujan yang mulai deras.
"Aku juga senang akhirnya bisa bicara jujur," jawabku. "Bukan cuma iya terus seperti dulu."
Ia berdiri perlahan. Mengambil tasnya—tas kanvas cokelat yang berbeda dari dulu. Menatapku sekali lagi dengan mata yang sedikit berkaca-kaca—bukan sedih, tapi seperti lega yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Bungkusan kertas cokelat kecil.
"Benih bunga peace lily," katanya sambil meletakkan bungkusan itu di meja. "Lebih mudah berbunga daripada sanseviera. Tapi butuh perhatian lebih—disiram teratur, cahaya yang cukup, tanah yang subur."
Aku menatap bungkusan itu. Tidak mengambilnya.
"Kenapa kamu kasih ini?"
"Karena aku harap... ke depannya kamu bisa merawat sesuatu dengan lebih baik." Ia tersenyum—senyum yang tulus kali ini, tanpa ironi. "Bukan hanya bertahan. Tapi tumbuh."
Sebelum pergi, ia mendekat. Menyentuh bahuku—sentuhan ringan, cepat, seperti orang yang berpamitan untuk selamanya tapi tidak mau terlihat dramatis.
"Terima kasih sudah merawat sanseviera itu," bisiknya. "Dan terima kasih sudah akhirnya bilang kamu tidak suka kopi asam."
Lalu ia menghilang ke dalam gerimis—langkahnya cepat, tidak menoleh lagi, seperti orang yang sudah selesai dengan satu bab dan siap membuka bab baru.
VII. (Epilog: Tentang Merawat dan Melepas dengan Cara yang Sama)
Aku duduk sendirian di bangku yang tadi ia duduki. Masih hangat. Atau mungkin itu hanya imajinasiku—cara tubuh menciptakan kenyamanan dari kehilangan.
Bungkusan benih itu masih di meja. Aku ambil, masukkan ke saku jaket. Entah akan kutanam atau tidak. Mungkin akan kusimpan dulu—menunggu sampai aku benar-benar siap merawat sesuatu yang butuh perhatian lebih, sesuatu yang tidak akan bertahan dengan sendirinya.
Seperti yang dijelaskan dalam tulisan yang pernah kubaca tentang perasaan terpendam, beberapa hal memang harus diucapkan—bukan untuk mengubah masa lalu, tapi untuk memberi ruang bagi masa depan.
Aku keluar dari kafe. Gerimis sudah berubah jadi hujan lebat. Aku tidak berlari. Hanya berjalan pelan, membiarkan hujan membasahi rambut dan wajah—dingin, tapi entah kenapa terasa menyegarkan. Seperti dibersihkan. Seperti direset.
Motor menyala. Aku pulang dengan pelan, menikmati hujan, menikmati perasaan ini: bukan bahagia, bukan sedih—tapi sesuatu di antaranya. Sesuatu yang lebih jujur daripada dua-duanya.
Sesuatu yang akhirnya bisa kusebut: damai.
Sesampainya di rumah, aku langsung ke balkon. Pot terakota dengan retakan kecilnya masih di sana. Sanseviera masih tegak, hijau tua, bertahan seperti biasa. Aku pegang pot itu—terasa dingin di telapak tangan, berat dengan cara yang aneh, seperti memegang kenangan yang sudah waktunya diletakkan.
Tapi aku tidak membuangnya.
Aku pindahkan ke sudut balkon yang lain—tempat yang lebih terkena sinar matahari pagi. Tempat yang lebih baik untuk tumbuh. Lalu aku ambil pot baru dari gudang, isi dengan tanah subur, dan tanam benih peace lily yang tadi ia berikan.
Dua pot. Dua tanaman. Dua cara merawat.
Yang satu mengajarkanku bertahan. Yang lain—semoga—akan mengajariku tumbuh.
Dan di tengah malam yang mulai sunyi, aku duduk di lantai balkon yang basah oleh hujan, menatap dua pot itu, dan tersenyum sendiri. Karena menyadari: beberapa hubungan tidak perlu berlanjut untuk tetap bermakna. Cukup pernah ada. Cukup pernah mengajarkan sesuatu. Cukup—akhirnya—dilepas dengan cara yang baik.
Meski hanya di malam hujan, tiga tahun terlambat.
FIN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar