Orang yang Menjadi Sungai
Sebuah cerpen tentang pencarian, kehilangan, dan menemukan kedamaian di tepian sungai yang mengalir tanpa tujuan.
"Sungai ini ingat padaku, tapi aku tidak yakin aku ingat padanya. Atau mungkin kita berdua berpura-pura ingat."
I. Hening Sebelum Arus
Pagi buta di tepian Sungai Kapuas selalu dimulai dengan kabut. Bukan kabut tipis yang romantis seperti dalam puisi, tapi kabut tebal yang menempel di kulit, masuk ke paru-paru, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan sesuatu yang hidup. Kala duduk di pinggir dermaga kayu yang lapuk, kaki menggantung lima belas sentimeter di atas permukaan air yang cokelat kehijauan. Airnya tidak jernih, tidak pula keruh. Seperti teh tanpa gula yang didiamkan terlalu lama.
Ia membawa tas ransel lusuh—hadiah dari seseorang yang sekarang sudah tidak penting lagi—berisi tiga benda: notebook Mrs. Dalloway yang sudah ia baca berulang kali hingga halamannya menguning, botol air mineral setengah kosong yang ia beli di rest area tiga hari lalu, dan foto polaroid seorang laki-laki yang wajahnya sudah memudar. Bukan karena air atau sinar matahari, tapi karena Kala terlalu sering menatapnya, seolah menatap bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang.
Dermaga ini dulu lebih panjang. Kala ingat itu. Atau ia pikir ia ingat. Memori itu licin seperti ikan—semakin keras kau genggam, semakin cepat ia meluncur lepas.
Lima belas tahun. Itu waktu yang cukup lama untuk melupakan detail. Tapi anehnya, ia ingat bau lumpur dan ikan membusuk yang persis sama dengan sekarang. Ia ingat suara air mendesis di celah-celah kayu dermaga yang mulai keropos. Ia ingat bagaimana ayahnya dulu berdiri di ujung dermaga, menatap sungai dengan tatapan yang tidak pernah ia mengerti—tatapan orang yang sedang mencari sesuatu yang tidak ada di depan matanya, tapi di tempat lain yang lebih jauh, lebih dalam.
"Kenapa Ayah suka sekali memandangi sungai?" tanya Kala kecil waktu itu, usianya tujuh atau delapan tahun.
"Karena sungai tidak pernah berhenti," jawab ayahnya. "Sementara kita harus berhenti terus."
Waktu itu Kala tidak mengerti. Sekarang, di usia tiga puluh empat tahun, dengan gelar doktor sastra yang tergantung di dinding apartemen kosong di Jakarta, ia mulai paham. Atau lebih tepatnya: ia mulai merasakan apa yang ayahnya rasakan. Keresahan tanpa nama. Kehausan tanpa air.
Kala adalah mantan dosen—bukan karena dipecat, tapi karena suatu pagi ia bangun dan menyadari ia tidak tahu lagi kenapa ia mengajar. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia membaca buku karena ingin, bukan karena harus. Ia tidak ingat kapan terakhir kali sebuah kalimat membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Semua kata-kata itu—Woolf, Joyce, Faulkner, semua stream of consciousness yang ia pelajari bertahun-tahun—tiba-tiba terasa seperti asing, seperti bahasa yang ia pernah kuasai tapi kini lupa cara mengucapkannya.
Maka ia datang ke sini. Ke kampung halamannya yang bahkan bukan kampung halaman dalam arti sebenarnya, karena ia hanya tinggal di sini sampai usia sepuluh tahun sebelum pindah ke kota. Tapi kalau bukan di sini, mau ke mana lagi? Orang yang tersesat biasanya kembali ke titik awal, bukan?
Air sungai mendesis lagi. Kala menatap permukaannya, mencoba melihat bayangannya sendiri. Tapi airnya terlalu gelap, atau matahari belum cukup tinggi. Yang ia lihat hanya siluet samar—bisa siapa saja, bisa bukan siapa-siapa.
Di kejauhan, seekor burung—Kala tidak tahu namanya, ia bukan orang yang pandai soal burung—terbang rendah menyisir permukaan air, lalu hinggap di tiang kayu yang mencuat dari sungai. Burung itu tidak bergerak lagi. Hanya diam, seperti patung. Seperti menunggu sesuatu yang tidak akan datang.
Kala merogoh tasnya, mengeluarkan notebook Woolf. Ia membuka halaman yang sudah ia lipat ujungnya, sebuah kalimat yang ia garis bawahi dengan pulpen merah:
"What is the meaning of life? A simple question; one that tended to close in on one with years. The great revelation had never come. The great revelation perhaps never did come. Instead, there were little daily miracles, illuminations, matches struck unexpectedly in the dark."
Kala membaca kalimat itu untuk keseratus kalinya—atau mungkin lebih—dan tetap tidak menemukan jawaban. Tapi mungkin itulah intinya. Virginia Woolf tidak pernah menawarkan jawaban. Ia hanya menawarkan pertanyaan yang lebih tajam, lebih jujur.
Kabut mulai menipis. Matahari naik perlahan, seperti enggan. Kala menutup bukunya, memasukkannya kembali ke tas. Ia berdiri, meregangkan punggung yang kaku. Lalu ia melihatnya: perahu kecil berwarna biru pudar, terikat di dermaga sebelah. Dan seorang laki-laki tua sedang duduk di dalam perahu itu, menggulung jala dengan gerakan mekanis, seperti sudah dilakukan ribuan kali hingga tubuhnya ingat sendiri caranya.
Pak Darmo. Ia masih ingat nama itu.
II. Pertemuan dengan Sang Ferryman
Pak Darmo tidak menoleh saat Kala mendekat. Tangannya terus menggulung jala, gerakan repetitif yang menenangkan untuk dilihat. Ada ritme di sana, seperti musik tanpa nada. Kala berdiri di tepi dermaga, tidak yakin harus menyapa dulu atau menunggu.
"Mau nyeberang?" tanya Pak Darmo tiba-tiba, tanpa menoleh.
Kala terkejut. "Pak Darmo ingat saya?"
"Nggak." Pak Darmo akhirnya menoleh, menatap Kala dengan mata yang sayu. "Tapi orang yang datang pagi-pagi ke dermaga cuma dua jenis: nelayan, atau orang yang mau nyeberang ke pulau. Kau bukan nelayan."
Kala tersenyum tipis. Logika yang sederhana tapi sulit dibantah.
"Ya," jawab Kala. "Saya mau ke pulau itu." Ia menunjuk gundukan tanah kecil di tengah sungai, sekitar dua ratus meter dari dermaga. Pulau yang bahkan terlalu kecil untuk disebut pulau. Lebih seperti ilalang yang tumbuh di atas tanah yang terangkat.
Pak Darmo berhenti menggulung jala. Ia menatap pulau itu, lalu menatap Kala lagi. "Kenapa?"
"Saya tidak tahu," jawab Kala jujur. "Tapi saya pikir ada sesuatu di sana."
"Nggak ada apa-apa di sana."
"Kalau begitu saya mau lihat tidak-ada-apa-apa itu."
Pak Darmo terdiam. Ia meletakkan jalanya ke dasar perahu, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong bajunya. Rokok Gudang Garam yang bungkusnya sudah lusut. Ia menawarkan pada Kala, tapi Kala menggeleng. Pak Darmo menyalakan rokoknya, menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke arah sungai.
"Sungainya lagi galau," kata Pak Darmo. "Airnya lagi cari jalan baru."
Kala mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Arusnya aneh. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang ke kanan, kadang ke kiri. Sungai ini biasanya nggak gitu." Pak Darmo menghisap rokoknya lagi. "Makanya saya nggak mau anterin orang nyeberang hari ini."
"Tapi Bapak nelayan, kan? Harusnya biasa dengan arus."
"Justru karena saya nelayan, saya tahu kapan harus percaya sama sungai, kapan enggak."
Kala duduk di tepi dermaga, membiarkan kakinya menjuntai lagi. Ia menatap permukaan air yang mulai berkilau terkena matahari. Dari sini, arus memang terlihat aneh—ada riak-riak kecil yang bergerak ke arah berbeda, seperti air sedang bingung mau ke mana.
"Kenapa orang selalu bilang sungai mengalir?" tanya Kala tiba-tiba.
Pak Darmo menatapnya. "Ya memang mengalir."
"Tapi mengalir ke mana? Kalau semua air di dunia ini terhubung—sungai ke laut, laut menguap jadi awan, awan jatuh jadi hujan, hujan kembali ke sungai—berarti sungai ini sebetulnya tidak ke mana-mana. Hanya berputar."
Pak Darmo tidak langsung menjawab. Ia membuang puntung rokoknya ke air, lalu menatap punggung tangannya yang keriput, penuh bintik-bintik cokelat. "Anak saya dulu juga suka ngomong kayak gitu," katanya pelan. "Ngomong yang aneh-aneh. Filsafat katanya."
"Anak Bapak ke mana sekarang?"
"Nggak tahu." Pak Darmo mengambil rokok lagi, menyalakannya. "Terakhir saya lihat dua puluh tahun lalu. Dia bilang mau ke Jakarta, cari kerja. Terus nggak pernah balik."
Kala terdiam. Ia tidak tahu harus bilang apa—semua kata-kata penghiburan terasa palsu sebelum diucapkan.
"Orang yang pergi ke sungai terlalu lama," kata Pak Darmo lagi, "biasanya jadi bagian dari sungai. Air masuk ke dalam diri. Terus mereka lupa cara jadi manusia." Ia menatap Kala. "Kau yakin mau ke pulau itu?"
"Ya."
"Kenapa?"
Kala menatap foto polaroid di tangannya—ia tidak sadar kapan ia mengeluarkannya dari tas. Wajah di foto itu semakin kabur. Sebentar lagi mungkin tidak ada wajah lagi, hanya bentuk samar yang bisa siapa saja.
"Karena saya pikir ayah saya pernah ke sana," jawab Kala. "Dan saya ingin tahu apa yang ia cari."
Pak Darmo menatap pulau itu lagi, lalu menghela napas panjang. "Perahu kecil di sebelah itu," ia menunjuk perahu kayu lain yang lebih kecil, lebih tua. "Kau bisa pakai. Tapi kalau tenggelam, jangan salahkan saya."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan bilang terima kasih dulu. Kau belum tahu apa yang akan kau temukan di sana."
III. Menyeberang
Perahu kecil itu ternyata lebih kecil dari yang Kala kira. Hanya cukup untuk satu orang dan sebilah dayung kayu yang sudah retak di bagian pegangannya. Kala naik dengan hati-hati, merasakan perahu bergoyang mengikuti arus. Ia duduk, meletakkan tasnya di depan, lalu melepas tali yang mengikat perahu ke dermaga.
Pak Darmo berdiri di tepi, menatap dengan tatapan yang sulit dibaca. "Hati-hati," katanya. Hanya itu.
Kala mulai mendayung. Gerakannya canggung—sudah lama ia tidak mendayung perahu, mungkin sejak ia masih kecil, saat ayahnya mengajarkannya. Satu tarikan kuat, lalu angkat dayung, taruh lagi di air, tarikan kuat lagi. Ritme yang seharusnya sederhana, tapi entah kenapa terasa berat sekarang.
Matahari sudah naik penuh, menyengat kulit. Permukaan air berkilau seperti kaca pecah. Kala menutup mata sebentar, merasakan panas di kelopak mata. Saat ia membuka mata lagi, ia menyadari sesuatu yang aneh: perahu tidak bergerak.
Atau lebih tepatnya, perahu bergerak—ia bisa merasakan arus mendorong lambung kayu—tapi tidak maju. Seperti berlari di atas treadmill. Bergerak tapi tidak ke mana-mana.
Kala mendayung lebih kuat. Otot lengannya mulai panas, keringat menetes di pelipis. Tapi perahunya tetap di tempat yang sama. Pulau itu masih sejauh tadi. Dermaga masih sedekat tadi.
"Pak Darmo!" panggilnya. Tapi tidak ada jawaban. Saat ia menoleh ke belakang, Pak Darmo sudah tidak ada di dermaga. Atau dermaga itu sendiri yang tidak ada? Kala tidak yakin. Yang ia lihat hanya kabut—padahal tadi kabut sudah hilang—kabut tebal yang menutupi segalanya.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia meletakkan dayung, mencoba menenangkan diri. Ini hanya arus. Ini hanya air. Tidak ada yang aneh.
Tapi saat ia menatap permukaan air di samping perahu, ia melihat bayangannya. Dan bayangan itu tidak mengikuti gerakannya.
Kala mengangkat tangan kanan. Bayangan di air mengangkat tangan kiri. Kala melambaikan tangan. Bayangan itu diam saja.
"Sialan," gumam Kala. Kau cuma kelelahan. Kau cuma belum tidur cukup. Ini cuma halusinasi.
Tapi saat ia menatap lagi, bayangan itu tersenyum. Dan Kala tidak sedang tersenyum.
Lalu ia mendengar suara. Bukan dari air, tapi dari dalam air. Suara seperti berbisik, tapi terlalu banyak suara sekaligus hingga terdengar seperti desisan. Kala mendekatkan telinga ke permukaan air—gerakan bodoh, ia tahu itu—dan suara-suara itu menjadi lebih jelas:
"Kamu tidak perlu sampai."
"Kamu sudah ada di sini."
"Kamu selalu ada di sini."
Kala menarik kepalanya cepat-cepat, napasnya tersengal. Ia menatap sekeliling—kabut semakin tebal, atau semakin tipis? Ia tidak bisa membedakan lagi. Matahari seperti bergerak terlalu cepat, atau terlalu lambat, ia tidak tahu mana yang benar.
Lalu ia melihat mereka.
Tiga sosok berenang di sekitar perahu. Atau tidak berenang—lebih seperti mengapung, kepala muncul di permukaan air, menatap Kala dengan mata yang terlalu familiar.
Sosok pertama adalah anak kecil, tujuh atau delapan tahun, dengan rambut basah menempel di wajah. Kala kecil.
Sosok kedua adalah perempuan muda, sembilan belas tahun, dengan tatapan tajam dan sedikit arogan. Kala saat kuliah.
Sosok ketiga adalah perempuan paruh baya, mungkin lima puluh tahun, dengan kerutan di sudut mata dan senyuman lelah. Kala yang belum ada.
Mereka semua menatap Kala—Kala yang sekarang, Kala yang duduk di perahu, Kala yang tidak tahu lagi mana yang nyata.
"Kamu tidak perlu sampai," kata Kala kecil.
"Kamu sudah ada di sini," kata Kala sembilan belas tahun.
"Kamu selalu ada di sini," kata Kala lima puluh tahun.
Lalu mereka menghilang. Bukan tenggelam—hanya menghilang, seperti tidak pernah ada.
Kala menutup mata, menarik napas panjang. Satu, dua, tiga, empat. Teknik pernapasan yang diajarkan psikolognya dulu. Lima, enam, tujuh, delapan. Saat ia membuka mata lagi, kabut sudah hilang. Matahari kembali ke posisi normal. Dan pulau itu—pulau kecil itu—sudah ada di depannya, hanya sepuluh meter lagi.
Kala mendayung. Kali ini perahunya bergerak. Tiga tarikan, dan lambung kayu menyentuh tanah pulau dengan bunyi goresan lembut.
Ia turun dari perahu, kakinya tenggelam sedikit di lumpur. Ia menarik perahu ke darat, mengikatnya ke akar pohon yang mencuat. Lalu ia berbalik, menatap pulau kecil yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Ada sesuatu di sana. Sebuah bangunan. Rumah kayu tua yang setengah roboh.
IV. Pulau yang Bukan Pulau
Rumah itu lebih kecil dari yang Kala bayangkan. Hanya satu ruangan, dengan atap seng yang sudah berkarat dan dinding kayu yang mulai lapuk. Pintu kayunya miring di engsel, setengah terbuka, seperti undangan atau peringatan—Kala tidak tahu yang mana.
Ia melangkah hati-hati, menghindari papan yang terlihat rapuh. Lantainya masih cukup kuat, tapi berderit setiap kali Kala melangkah. Cahaya masuk dari celah-celah atap, membuat garis-garis terang di lantai berdebu.
Di pojok ruangan ada meja kayu kecil. Di atas meja itu: sebuah lampu minyak tanpa minyak, gelas kaca retak, dan sebuah buku catatan dengan sampul kulit yang sudah mengelupas.
Kala mengangkat buku itu. Beratnya terasa aneh di tangan—terlalu ringan untuk ukurannya, seperti sebagian isinya sudah hilang entah ke mana. Ia membuka halaman pertama.
Tulisan tangan. Rapi, dengan tinta biru yang sudah memudar.
"17 Maret 1991
Aku datang ke pulau ini karena tidak tahu harus ke mana lagi. Orang bilang kalau kau tersesat, kembali ke sungai. Tapi aku sudah di sungai, dan tetap tidak tahu arah."
Kala membalik halaman. Tulisannya masih rapi.
"23 Maret 1991
Hari ini aku mencoba membaca Woolf lagi. Mrs. Dalloway. Tapi aku tidak bisa konsentrasi. Kata-katanya seperti mengalir terus, seperti sungai, dan aku tidak bisa menangkap artinya. Atau mungkin memang tidak ada artinya. Mungkin itulah intinya."
Jantung Kala mulai berdetak lebih cepat. Ia membalik beberapa halaman, membaca secara acak.
"7 April 1991
Kadang aku berpikir: apa bedanya aku dengan air di sungai ini? Kami sama-sama mengalir tanpa tahu tujuan. Kami sama-sama tidak bisa berhenti. Kami sama-sama akan hilang ke tempat yang lebih besar—laut, atau entahlah—dan tidak ada yang akan ingat kami pernah ada."
Tulisannya mulai berubah. Di halaman-halaman selanjutnya, tulisan tangannya tidak lagi rapi. Lebih terburu-buru, lebih kacau, beberapa kata dicoret, beberapa kalimat tidak selesai.
"20 April 1991
Aku pikir aku datang mencari sesuatu. Ternyata yang aku cari adalah cara untuk berhenti mencari. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana cara berhenti bertanya? Bagaimana cara—"
Kalimat itu tidak selesai. Halaman berikutnya kosong. Dan halaman setelahnya. Dan setelahnya lagi.
Kala membalik ke halaman terakhir yang ada tulisannya. Di sana, hanya ada satu kalimat, ditulis dengan huruf besar, tinta hampir menembus kertas:
"SUNGAI INI ADALAH AKU. AKU ADALAH SUNGAI INI."
Lalu di bawahnya, dengan tulisan tangan yang sudah kembali lebih tenang:
"Untuk Kala, jika suatu hari kau membaca ini: maafkan ayahmu. Aku tidak tahu cara menjelaskan. Aku hanya tahu aku harus pergi sebelum aku benar-benar hilang."
Kala menjatuhkan buku itu. Tangannya gemetar. Ia mundur selangkah, dua langkah, punggungnya menyentuh dinding kayu. Ayahnya. Ini tulisan ayahnya.
Ayahnya yang pergi saat Kala berusia sepuluh tahun. Ayahnya yang katanya pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Ayahnya yang tidak pernah kembali, tidak pernah menelepon, tidak pernah mengirim surat. Ayahnya yang ibunya bilang sudah meninggal—tapi tidak pernah ada pemakaman, tidak pernah ada bukti.
Dan ternyata ayahnya pernah ke sini. Ke pulau ini. Setahun sebelum ia pergi. Menulis di buku catatan ini, menulis tentang Woolf, menulis tentang sungai, menulis tentang hilang.
Kala mengambil buku itu lagi, membacanya dari awal. Setiap kalimat terasa seperti cermin—ia bisa melihat dirinya sendiri di sana. Keresahan yang sama. Pertanyaan yang sama. Kehausan tanpa air yang sama.
Ia teringat kata-kata Pak Darmo: "Orang yang pergi ke sungai terlalu lama, biasanya jadi bagian dari sungai."
Apakah itu yang terjadi pada ayahnya? Apakah ia benar-benar hilang—tidak dalam artian meninggal, tapi dalam artian larut, menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang bukan lagi manusia?
Kala menatap keluar jendela kecil. Dari sini ia bisa melihat sungai, airnya yang cokelat kehijauan, arusnya yang aneh, bergerak ke arah yang tidak menentu. Ia mencoba membayangkan ayahnya berdiri di sini, menatap sungai yang sama, merasakan keresahan yang sama.
Lalu ia mengerti.
Ia tidak mewarisi keresahan itu. Ia adalah keresahan itu. Dalam bentuk berbeda, dengan pertanyaan berbeda, tapi esensinya sama. Seperti air yang mengalir dari satu sungai ke sungai lain—bentuknya berubah, tapi tetap air.
Dan mungkin itulah jawaban yang selama ini ia cari: tidak ada jawaban. Hanya ada aliran. Hanya ada gerak tanpa tujuan. Hanya ada pertanyaan yang melahirkan pertanyaan lain, selamanya.
Kala duduk di lantai, memeluk lututnya. Ia tidak menangis—ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya duduk, membiarkan cahaya dari celah atap menyentuh rambutnya, membiarkan waktu berlalu tanpa arti.
Entah berapa lama ia duduk di sana. Mungkin satu jam, mungkin lima menit—di pulau ini, waktu terasa seperti tidak punya bentuk.
Akhirnya ia berdiri. Ia mengambil buku catatan ayahnya, memasukkannya ke dalam tas. Lalu ia keluar dari rumah kecil itu, menutup pintu yang miring, dan berjalan kembali ke perahu.
V. Kembali ke Tepi
Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Atau mungkin Kala sudah tidak peduli lagi dengan kecepatan. Ia mendayung dengan gerakan mekanis, tidak berpikir, hanya bergerak. Arusnya tenang sekarang—anehnya—seperti sungai sudah menemukan jalannya kembali.
Saat perahu menyentuh dermaga, Pak Darmo sudah menunggu di sana. Ia berdiri dengan tangan dilipat di dada, menatap Kala dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Dapat apa?" tanyanya.
Kala turun dari perahu, kakinya sedikit gemetar—entah karena kelelahan atau karena hal lain yang ia sendiri tidak mengerti. Ia menarik perahu ke tepi, mengikatnya kembali ke tiang dermaga. Baru setelah itu ia menatap Pak Darmo.
"Tidak ada," jawab Kala. "Dan itu yang saya dapat."
Pak Darmo menatapnya lama. Lalu ia tersenyum tipis—senyum pertama yang Kala lihat di wajahnya. "Kalau begitu kau sudah mengerti."
"Mengerti apa?"
"Bahwa kadang kita pergi bukan untuk menemukan sesuatu, tapi untuk berhenti mencari."
Kala terdiam. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan buku catatan ayahnya. Ia menatap sampul kulit yang mengelupas itu, lalu menatap Pak Darmo lagi.
"Bapak kenal tulisan tangan ini?" Kala membuka halaman pertama, memperlihatkannya.
Pak Darmo mengambil kacamata dari kantong bajunya—kacamata baca murah dengan bingkai plastik—dan melihat tulisan itu. Matanya berkedip beberapa kali. "Ini tulisan siapa?"
"Ayah saya."
Pak Darmo menatap Kala lebih lama. "Ayahmu yang mana?"
"Yang pergi dua puluh lima tahun lalu. Yang katanya ke Jakarta tapi tidak pernah sampai."
Pak Darmo mengembalikan buku itu, melepas kacamatanya. Ia menatap pulau kecil di tengah sungai, lalu menghela napas panjang. "Banyak orang pergi ke pulau itu," katanya pelan. "Kebanyakan tidak pernah kembali. Bukan karena mereka mati. Tapi karena mereka menemukan sesuatu di sana yang membuat mereka tidak bisa kembali menjadi orang yang sama."
"Apa yang mereka temukan?"
"Diri mereka sendiri. Atau tidak ada diri sama sekali. Tergantung cara melihatnya."
Kala memasukkan buku itu kembali ke tasnya. Ia menatap sungai—airnya sudah tidak lagi bergerak aneh. Arusnya tenang, bergerak ke satu arah, seperti sungai normal pada umumnya.
"Pak Darmo," kata Kala. "Anak Bapak yang pergi dua puluh tahun lalu... dia pernah ke pulau itu?"
Pak Darmo tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan rokok lagi, menyalakannya dengan gerakan lambat. Menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke arah sungai.
"Iya," jawabnya akhirnya. "Sebelum dia pergi, dia ke pulau itu. Dia bilang mau mencari jawaban. Saya bilang jangan, tapi dia tetap pergi. Saat dia kembali, matanya beda. Seperti sudah melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata." Pak Darmo menatap Kala. "Sebulan kemudian dia pergi ke Jakarta. Tidak pernah kembali."
"Bapak tidak mencoba mencarinya?"
"Mencari orang yang tidak ingin ditemukan itu sama dengan mencoba menangkap air dengan tangan kosong." Pak Darmo tersenyum pahit. "Kau bisa mencoba, tapi air tetap akan lolos."
Kala merasa ada yang mencengkeram dadanya. Berapa banyak orang yang hilang karena pulau itu? Berapa banyak ayah, anak, saudara yang pergi dan tidak pernah kembali?
"Kenapa Bapak masih tinggal di sini?" tanya Kala. "Kenapa tidak pergi dari sini?"
"Karena kalau aku pergi, siapa yang akan menunggu dia pulang?"
Kala tidak tahu harus menjawab apa. Semua kata-kata terasa tidak cukup.
Mereka berdua terdiam, menatap sungai yang mengalir tanpa henti. Di kejauhan, burung yang tadi Kala lihat masih bertengger di tiang kayu, masih tidak bergerak, seperti patung yang menunggu sesuatu.
"Kau mau kembali ke Jakarta?" tanya Pak Darmo.
Kala menggeleng. "Tidak. Setidaknya belum."
"Mau tinggal di sini?"
"Mungkin. Beberapa bulan. Saya pikir saya perlu belajar sesuatu dari sungai ini."
Pak Darmo tersenyum tipis. "Sungai tidak mengajarkan apa-apa. Dia cuma mengalir. Tapi mungkin itulah pelajarannya."
Epilog: Tepi yang Baru
Tiga bulan kemudian.
Kala duduk di beranda rumah kayu kecil yang ia sewa di tepi sungai—bukan di kampung tempat ia lahir, tapi di kampung sebelah, sekitar lima kilometer dari dermaga Pak Darmo. Rumahnya sederhana: satu kamar, satu ruang tamu kecil, dapur seadanya. Tapi ada jendela besar yang menghadap sungai, dan itu cukup.
Di tangannya ada secangkir kopi—bukan kopi mahal dari Jakarta, tapi kopi sachetan yang dibeli di warung Pak Haji, kopi yang terlalu manis tapi entah kenapa terasa pas di pagi hari seperti ini.
Di mejanya ada tumpukan buku tulis—buku latihan anak-anak SD yang ia beli di toko kelontong. Setiap sore, lima anak dari kampung datang ke rumahnya untuk belajar. Bukan pelajaran formal—Kala bukan guru yang baik untuk itu. Ia hanya membacakan cerita untuk mereka. Kadang Virginia Woolf yang disederhanakan, kadang dongeng Nusantara, kadang cerita yang ia karang sendiri.
Anak-anak itu tidak selalu mengerti. Tapi mereka mendengarkan. Dan Kala belajar bahwa kadang mendengarkan itu cukup.
Ia membuka laptop tuanya—laptop yang sudah lima tahun tidak ia hidupkan. Ia membuka dokumen kosong, menatap kursor yang berkedip.
Apa yang akan kau tulis? tanya suara di kepalanya. Kau sudah tidak menulis apa-apa selama bertahun-tahun.
Tapi kali ini Kala tidak takut dengan halaman kosong. Ia mulai mengetik—pelan, satu kata demi satu kata, tanpa tahu akan jadi apa tulisan ini. Seperti sungai yang mengalir tanpa tahu akan sampai di mana.
"Sungai ini ingat padaku, tapi aku tidak yakin aku ingat padanya..."
Ia berhenti sejenak, tersenyum. Lalu ia menghapus kalimat itu, menulis yang baru:
"Sungai ini tidak ingat padaku. Aku juga tidak ingat padanya. Tapi kami ada di sini, pada saat yang sama, dan itu cukup."
Suara perahu terdengar dari kejauhan. Kala menoleh—Pak Darmo sedang mendayung perahunya, jala di punggung, seperti biasa. Ia melihat Kala, melambaikan tangan. Kala membalas lambaian itu.
Mereka tidak pernah lagi membicarakan pulau itu. Tidak pernah lagi membicarakan orang-orang yang hilang. Tapi kadang, saat matahari terbenam dan sungai berubah warna menjadi oranye keemasan, mereka duduk bersama di dermaga, minum kopi sachetan, dan diam-diam saja.
Keheningan yang nyaman. Keheningan yang tidak perlu diisi dengan jawaban.
Suatu sore, Kala membawa foto polaroid itu ke dermaga. Foto laki-laki yang sudah hampir sepenuhnya memudar. Ia menatapnya lama, mencoba mengingat wajah di sana, tapi sudah tidak bisa lagi.
"Sudah waktunya," gumam Kala pada dirinya sendiri.
Ia berdiri di tepi dermaga, menggenggam foto itu di tangan. Lalu ia melemparnya ke sungai.
Foto itu jatuh ke permukaan air, mengapung sebentar—seperti masih ragu—lalu perlahan mulai tenggelam. Kala menatapnya sampai benar-benar hilang ditelan arus.
Ia tidak merasa sedih. Juga tidak merasa lega. Ia hanya merasa kosong—tapi kosong dalam artian yang baik, seperti gelas yang sudah dikosongkan agar bisa diisi dengan sesuatu yang baru.
Pak Darmo datang menghampiri. "Siapa itu tadi?"
"Seseorang yang dulunya penting," jawab Kala. "Tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Kau yakin?"
Kala menatap sungai—airnya yang cokelat kehijauan, arusnya yang tenang, tidak lagi galau seperti dulu. "Tidak. Tapi saya rasa tidak apa-apa tidak yakin."
Pak Darmo tersenyum. "Kau belajar cepat."
"Saya belajar dari sungai."
"Sungai tidak mengajar apa-apa."
"Ya," Kala tersenyum. "Itulah yang ia ajarkan."
Mereka berdua terdiam lagi, menatap matahari yang mulai turun. Cahaya oranye memantul di permukaan air, membuat sungai terlihat seperti terbuat dari api cair.
Kala teringat kata-kata Virginia Woolf yang ia baca berulang kali: "The great revelation perhaps never did come. Instead, there were little daily miracles."
Mungkin ini adalah keajaiban kecil itu. Bukan jawaban besar. Bukan epifani dramatis. Hanya sore hari di tepi sungai, bersama orang asing yang entah kenapa terasa seperti teman lama, menatap air yang mengalir tanpa tujuan tapi entah kenapa terasa indah.
Kala tidak menemukan apa yang ia cari. Tapi ia menemukan cara untuk berhenti mencari. Dan mungkin itu cukup.
Atau mungkin tidak cukup. Tapi ia akan terus berada di sini, di tepi sungai ini, mengalir bersama arus, tanpa tahu akan sampai di mana.
Seperti air.
Seperti waktu.
Seperti semua hal yang tidak bisa ditangkap tapi tetap nyata.
Catatan Penulis:
Cerpen ini terinspirasi dari eksplorasi awal tentang stream of consciousness dan metafora sungai, serta teknik naratif dari Virginia Woolf yang mengalirkan kesadaran tokoh tanpa batas jelas antara pikiran dan realitas. Gaya penulisan mencoba memadukan introspeksi filosofis ala Woolf, detail mundane yang surreal dari Haruki Murakami, dan kedalaman metafisika yang konkret dari Dee Lestari.
Sungai dalam cerita ini bukan sekadar setting, tapi karakter—entitas yang hidup, mengalir, dan mengubah siapa pun yang terlalu lama menatapnya. Seperti dalam kehidupan nyata, kadang kita mencari jawaban tapi yang kita temukan adalah pertanyaan yang lebih dalam. Dan kadang, itu sudah cukup.