Rabu, Desember 17, 2025

Membaca "Roti Jam Lima Pagi": Ketika Kesederhanaan Menjadi Sakral

Sebuah Kajian Mendalam tentang Cerpen Kontemporer Indonesia

Analisis mendalam cerpen Roti Jam Lima Pagi: ketika kesederhanaan menjadi sakral. Kritik sastra kontemporer dengan pendekatan fenomenologis.

Ketika pertama kali membaca "Roti Jam Lima Pagi", saya sedang duduk di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan, menunggu hujan reda. Di luar jendela, kota bergerak cepat—motor, mobil, orang-orang dengan langkah tergesa. Tapi di dalam cerpen ini, ada dunia yang bergerak dengan ritme berbeda. Dunia Pak Budi yang bangun jam 02.45, menguleni adonan dengan tangan yang sakit arthritis, dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang oleh banyak orang dianggap biasa.

Cerpen ini mengajak saya berhenti. Melambat. Dan bertanya: kapan terakhir kali saya benar-benar hadir dalam momen sederhana?

Inilah yang saya temukan dalam pembacaan mendalam terhadap karya ini—sebuah cerpen yang dengan berani memilih keheningan di tengah hiruk-pikuk sastra urban kontemporer Indonesia.

I. Posisi dalam Lanskap Sastra Kontemporer

"Roti Jam Lima Pagi" menempatkan diri dalam tradisi cerpen Indonesia yang memfokuskan pada kehidupan orang biasa dengan pendekatan mikro-realisme. Ia berkerabat dengan karya-karya Seno Gumira Ajidarma dalam hal detail observasional, namun dengan kepekaan emosional yang mengingatkan pada Ahmad Tohari.

Tidak seperti cerpen urban kontemporer yang cenderung riuh dengan konflik eksternal, tulisan ini memilih apa yang oleh kritikus sastra David Mikics sebut sebagai "slow reading"—narasi yang menuntut pembaca untuk melambat, untuk merasakan, bukan sekadar mengonsumsi plot.

"Adonan mulai terbentuk. Kental, lengket, belum menjadi apa-apa. Dia tuang ke meja marmer—dingin di bawah telapak tangannya. Kemudian dia mulai menguleni."

II. Waktu sebagai Mantra: Bagaimana Ritme Menciptakan Makna

Arsitektur Temporal yang Presisi

Narasi ini dibangun dengan kesadaran temporal yang luar biasa. Dimulai dari 02.45 hingga 20.00, struktur waktu bukan sekadar penanda kronologis—ia menjadi perangkat naratif yang menciptakan ritme kehidupan Pak Budi. Pengulangan jam menciptakan musikalitas prosa yang hipnotis, seperti metronom yang mengatur tempo kehidupan.

Ini mengingatkan saya pada konsep "durée" dalam filsafat Henri Bergson—waktu yang dialami subjektif, bukan waktu matematis jam dinding. Pak Budi tidak hidup dalam waktu clock-time, tetapi dalam waktu eksistensial yang diukur oleh proses: adonan mengembang, roti matang, pelanggan datang.

Ritme sebagai Meditasi

Yang cemerlang adalah bagaimana ritme narasi meniru ritme kerja Pak Budi: "tekan, lipat, putar." Repetisi ini bukan redundansi—ia adalah mantra. Dalam tradisi Zen Buddhism, repetisi adalah jalan menuju mindfulness. Penulis menciptakan apa yang saya sebut "prosa ritualistik"—di mana pengulangan mengubah proses mekanis menjadi meditasi.

"Tangan bergerak ritmis—tekan, lipat, putar. Tekan, lipat, putar. Adonan melawan dulu, keras, kaku. Tapi perlahan dia menyerah. Menjadi lembut. Menjadi elastis. Menjadi hidup."

III. Fenomenologi Keseharian: Ketika Detail Menjadi Sakral

Sensorik yang Bertingkat

Cerpen ini menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menerjemahkan pengalaman sensorik menjadi bahasa. Perhatikan bagaimana air dingin digambarkan:

"Air dingin di wajah—shock kecil yang menyenangkan, seperti ditampar lembut oleh pagi."

Ini bukan sekadar deskripsi fisik. "Ditampar lembut" adalah oxymoron yang menciptakan sensasi paradoksal—persis seperti pengalaman air dingin. Kemudian air dingin muncul lagi di ember, "lebih dingin dari air wajah tadi," menciptakan gradasi pengalaman yang membangun dunia sensorik bertingkat.

Pendekatan ini sejalan dengan apa yang Gaston Bachelard sebut dalam "The Poetics of Space"—bagaimana ruang dan objek material menyimpan memori dan makna intim.

Objek sebagai Saksi Sejarah

Tungku, oven, kulkas yang dengungnya "seperti mantra," counter kayu "yang sudah dua generasi dia pakai"—objek-objek ini bukan properti pasif. Mereka adalah co-participant dalam ritual harian Pak Budi, saksi sejarah yang diam tapi hadir.

IV. Pak Budi: Everyman yang Transenden

Karakterisasi Melalui Kebiasaan

Pak Budi tidak digambarkan melalui deskripsi fisik detail atau backstory dramatis. Ia muncul melalui akumulasi kebiasaan: bangun tanpa alarm, berbisik pada diri sendiri, menghitung takaran tanpa resep. Ini teknik karakterisasi yang matang—karakter terbentuk melalui ritme, bukan plot.

Dalam teori naratologi Gerard Genette, ini adalah contoh "showing" dalam bentuk paling murni—karakter mengungkapkan dirinya melalui tindakan berulang, bukan melalui telling.

Kebijaksanaan Tanpa Melodrama

Ada kedalaman dalam kesederhanaan dialog internal Pak Budi: "Hari ini juga bagus." Tidak ada krisis eksistensial yang berlebihan, tidak ada epifani yang dipaksakan. Pak Budi adalah figur yang sudah menemukan kedamaian dalam repetisi.

"Karena hidup punya rencana sendiri, Pak. Dan ternyata rencana itu lebih baik dari rencana saya."

Ini adalah penerimaan yang transformatif—bukan pasrah, tetapi embrace. Sesuatu yang jarang dalam sastra kontemporer yang cenderung mengagungkan perubahan dan drama.

V. Subversi Narasi Sukses: Kebahagiaan dalam Yang Biasa

Cerpen ini melakukan perlawanan halus terhadap narasi "ambisi-kesuksesan-achievement" yang mendominasi fiksi urban Indonesia. Pak Budi dulunya ingin jadi musisi, tapi sekarang ia membuat roti. Dan ia tidak menderita karenanya.

Ini bukan naratif "mimpi yang gagal." Ini adalah apa yang oleh filsuf Kieran Setiya sebut sebagai "atelic activities"—aktivitas yang nilainya bukan pada hasil akhir, tetapi pada proses itu sendiri. Pak Budi tidak menguleni adonan untuk membuat roti—ia menemukan makna dalam proses menguleni itu sendiri.

Sakralitas Kerja Manual

Ada elemen spiritual dalam cara Pak Budi menguleni adonan. Istrinya bilang ia seperti main piano; ia sendiri bilang "mungkin ini piano-nya." Metafora ini mengangkat kerja manual ke level artistik, bahkan liturgis.

Ketika adonan mengembang, ia berbisik "Bagus" dengan kepuasan yang hampir religius. Ini mengingatkan pada konsep mise en place dalam kuliner Perancis—kerja sebagai ritual, sebagai meditasi, sebagai doa.

VI. Relasi dalam Keheningan: Intimacy yang Minim Kata

Interaksi Pak Budi dengan orang lain—Hendra, Pak Joko, Mbak Sari, Dinda—sangat minim kata. Tapi justru dalam ekonomi bahasa ini, kedekatan terbangun:

"Mereka diam. Tidak perlu banyak kata. Pak Joko minum kopi pelan, lihat jalan yang mulai ramai."

Dengan Pak Joko, persahabatan tidak butuh basa-basi. Dengan Hendra, komunikasi kerja sudah melampaui instruksi verbal. Ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang intimacy—bahwa kedekatan sejati sering tidak berisik.

Ratih: Cinta yang Memberi Ruang

Hubungan Pak Budi dengan Ratih adalah salah satu momen paling menyentuh:

"Yang penting kamu bahagia."
"Kalau kamu bahagia, Bapak bahagia."

Ini adalah cinta yang tidak menuntut, tidak posesif. Cinta yang memberi ruang. Dalam sastra Indonesia yang sering menggambarkan orang tua sebagai figur yang menuntut atau menderita karena ditinggalkan, Pak Budi adalah anomali yang menyegarkan. Ia mencintai dengan cara melepas, bukan mengikat.

VII. Bahasa dan Stilistika: Prosa yang Bernapas

Meditatif dengan Sentakan Puitis

Penulis menggunakan prosa yang mengalir seperti kontemplasi, tapi sesekali menyisipkan kalimat pendek yang menghentak:

"Dan dia tersenyum."
"Senyum yang tidak ada yang lihat."
"Tapi ada."

Fragmentasi ini menciptakan emphasis. Kalimat pendek berfungsi seperti jeda napas, memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan bobot momen. Ini adalah teknik yang sering digunakan oleh Mary Oliver dalam puisinya—keheningan sebagai bagian dari makna.

Repetisi sebagai Litani

Repetisi "hari ini baik" muncul berkali-kali. Tapi ini bukan redundansi—ini akumulasi emosional. Setiap kali frasa itu muncul, konteksnya berbeda, dan pembaca merasakan lapisan makna yang bertambah. Seperti mantra yang kekuatannya bertambah dengan setiap pengulangan.

Metafora yang Organik

Metafora tidak pernah dipaksakan: "bara yang tidak padam," "menyalakan matahari kecil," "oven yang masih menyimpan panas." Semuanya berakar pada dunia material Pak Budi—api, roti, kehangatan. Tidak ada metafora yang imported dari luar dunia naratif.

VIII. Jatibening sebagai Metafora: Hidup di Ruang Antara

Setting bukan sekadar latar. Jatibening, Bekasi—bukan Jakarta, bukan desa. Ini pinggiran urban, zona transisi. Pak Budi hidup di ruang antara: tidak sepenuhnya urban, tidak sepenuhnya tradisional.

Setting ini merefleksikan kondisi eksistensial banyak orang Indonesia kelas menengah yang hidup di margins—yang tidak masuk dalam narasi glamor kota besar, tapi juga sudah tidak dalam kehidupan rural yang romantis. Mereka adalah the in-between people, dan cerpen ini memberi suara pada mereka.

"Di luar, Jatibening masih tidur. Hanya suara anjing menggonggong jauh, sesekali motor lewat."

IX. Kritik Implisit: Melawan Hustle Culture dengan Kehadiran

Tanpa berkhotbah, cerpen ini mengkritik obsesi kontemporer dengan produktivitas dan ambisi. Pak Budi bangun jam 02.45 bukan karena grind culture, tapi karena ritme internal. Ia bekerja keras, tapi tanpa burnout. Ia produktif, tapi tidak teralienasi dari prosesnya.

Dalam era di mana burnout dianggap sebagai epidemi global, Pak Budi menawarkan model alternatif: kerja sebagai ritual yang memberi makna, bukan sekadar means untuk survival atau status.

X. Katarsis dalam Ketenangan: Dampak Emosional yang Halus

Tidak seperti katarsis Aristotelian yang lahir dari tragedy, cerpen ini menawarkan katarsis dalam ketenangan. Pembaca tidak menangis karena sedih, tapi mungkin menangis karena diingatkan bahwa kebahagiaan bisa sederhana.

Ada sesuatu yang deeply healing dalam narasi ini. Dalam dunia yang terus berteriak bahwa kita harus "lebih"—lebih sukses, lebih produktif, lebih visible—Pak Budi berbisik: "Ini cukup."

"Dia berbaring di ranjang. Menatap langit-langit kamar yang retak. Menutup mata. Dan sebelum tidur, dia bisik—sangat pelan, hampir tidak terdengar—'Terima kasih.'"

Dan entah kenapa, ketika membaca ini, saya juga ingin berbisik: terima kasih. Pada hari ini. Pada momen-momen kecil yang sering saya lewatkan karena terlalu sibuk mengejar yang besar.

XI. Refleksi Penutup: Sastra Minor dengan Dampak Major

"Roti Jam Lima Pagi" adalah contoh dari apa yang bisa disebut "sastra minor" dalam pengertian Deleuze-Guattari—bukan minor dalam kualitas, tetapi dalam skala. Ia tidak bicara tentang peristiwa besar, tokoh besar, atau ide besar. Ia bicara tentang yang kecil dengan perhatian yang besar.

Kekuatan cerpen ini terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasakan kembali pengalaman-pengalaman yang sering diabaikan: air dingin di wajah, aroma roti, kehangatan matahari pagi, kehadiran diam seorang teman. Dalam dunia yang terus mempercepat, cerpen ini mengajak untuk melambat dan hadir.

Ini adalah tulisan yang berani karena keberaniannya terletak pada ketenangan, bukan keributan. Dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer yang sering riuh, "Roti Jam Lima Pagi" berbisik—dan justru karena itu, kita mendengar.


Bacaan Terkait:

Catatan Penutup

Setelah selesai membaca dan menganalisis cerpen ini, saya keluar dari kedai kopi. Hujan sudah reda. Kota masih bergerak cepat, tapi saya berjalan lebih lambat. Memperhatikan hal-hal kecil: bau aspal basah, cahaya sore yang menyentuh genangan air, seorang bapak tua yang menyapu teras tokonya dengan gerakan yang sama—tekan, sapu, tekan, sapu—seperti ritual.

Dan saya berpikir: mungkin inilah hadiah terbesar dari sastra—bukan membawa kita ke dunia lain, tetapi membuat kita melihat dunia kita sendiri dengan mata yang baru.

Bagaimana dengan Anda? Apakah ada momen "roti jam lima pagi" dalam hidup Anda—ritual kecil yang memberi makna? Saya ingin mendengar cerita Anda di kolom komentar.

Tentang Penulis: Ulasan ini adalah bagian dari seri Resonansi, di mana kami membedah cerpen-cerpen kontemporer Indonesia dengan pendekatan kritis yang accessible.

Jumat, Desember 12, 2025

Membaca Bayangan: Sebuah Personal Naratif Kajian terhadap Zenith

Membaca Bayangan: Sebuah Personal Naratif Kajian terhadap "Zenith"
Membaca Bayangan: Sebuah Personal Naratif Kajian terhadap Zenith

Membaca Bayangan: Sebuah Personal Naratif Kajian terhadap "Zenith"

I. Pertemuan dengan Teks

Pukul dua pagi, laptop saya menyala di meja kerja yang berantakan. Secangkir kopi yang saya seduh sejak pukul sebelas sudah dingin, tapi saya tidak peduli. Saya baru saja selesai membaca "Zenith"—sebuah cerita pendek yang seharusnya saya baca sebagai tugas membaca ringan sebelum tidur. Tapi ada tulisan yang membaca kita lebih dulu sebelum kita selesai membacanya. Dan "Zenith" adalah salah satunya.

Jari saya langsung membuka tab baru. Google: "jadwal kulminasi Matahari 2025 Jakarta". Hasilnya muncul—data dari BMKG tentang fenomena hari tanpa bayangan. Saya menatap angka-angka di layar, lalu menatap bayangan tangan saya di atas keyboard. Gelap. Jelas. Ada.

Entah kenapa, saya merasa lega.

Ini bukan resensi. Saya tidak akan memberi tahu Anda apakah cerita ini "bagus" atau "layak dibaca"—karena pertanyaan seperti itu terlalu sederhana untuk teks yang kompleks. Ini adalah percakapan. Percakapan antara saya sebagai pembaca yang tiba-tiba merasa dilihat oleh teks yang seharusnya saya yang melihat.

"Zenith" adalah cerita tentang Arjuna, seorang juru arsip di Yogyakarta, yang kehilangan bayangannya ketika Matahari mencapai titik puncak—zenith—pada pukul 11:24 WIB. Dalam beberapa menit itu, bayangan menghilang. Dan Arjuna merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar fenomena fisika: ia merasa sedang lenyap.

Tapi ini bukan cerita fantasi. Ini cerita realis yang menggunakan fenomena astronomis nyata sebagai metafora untuk sesuatu yang jauh lebih dalam: krisis representasi diri dalam era di mana jejak digital berlimpah tapi makna eksistensial menipis. Apa yang terjadi ketika kita kehilangan bayangan kita—baik literal maupun metaforis? Apa yang tersisa dari kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang membuat saya tidak bisa tidur malam itu.

II. Anatomi Bayangan: Membedah Struktur dan Metafora

Arsitektur Naratif

Saya membaca ulang "Zenith" keesokan paginya dengan mindset yang berbeda—kali ini sebagai peneliti, bukan hanya pembaca. Saya mencatat strukturnya: empat bagian dengan panjang yang tidak seimbang, ditambah epilog. Bagian I adalah kehilangan, Bagian II adalah pemahaman, Bagian III adalah rekonsiliasi, Bagian IV adalah tindakan. Ada ritme di sana. Ada perjalanan yang terukur.

Yang menarik adalah bagaimana setiap bagian dimulai dengan deskripsi cahaya atau ketiadaannya. Bagian I: "Matahari berdiri tegak di puncak langit". Bagian II: "Museum Sonobudoyo berdiri seperti candi kecil yang lupa waktu" dengan "koridor yang sejuk". Bagian III: "kota mulai bergerak lagi". Bagian IV: "Malam itu". Cahaya bergerak dari terik maksimal ke kegelapan total—dan dalam perjalanan itu, Arjuna juga bergerak.

Struktur ini mengingatkan saya pada pathet dalam pertunjukan wayang: pathet nem (sore, penuh konflik), pathet sanga (malam, klimaks), pathet manyura (tengah malam menuju fajar, resolusi). Apakah penulis sengaja menggunakan struktur wayang? Entahlah. Tapi fakta bahwa wayang menjadi motif sentral dalam cerita membuat saya percaya ini bukan kebetulan.

Fenomena Zenith sebagai Metafora Pusat

Mari kita bicara tentang sains dulu. Kulminasi utama Matahari—atau yang populer disebut "hari tanpa bayangan"—terjadi ketika Matahari tepat berada di titik zenith, 90 derajat dari permukaan bumi. Ini terjadi dua kali setahun di wilayah tropis antara garis balik utara dan selatan. Di Yogyakarta, fenomena ini terjadi sekitar Oktober dan Februari. Fenomena ini nyata, terukur, bisa diprediksi.

Tapi dalam "Zenith", fenomena fisika ini menjadi metafora berlapis. Pertama, secara literal: tidak ada bayangan berarti tidak ada jejak visual keberadaan kita di dunia. Kedua, secara psikologis: momen tanpa bayangan adalah momen tanpa referensi eksternal—kita tidak bisa melihat "bentuk" diri kita melalui refleksi atau proyeksi. Ketiga, secara sosial: ketika validasi eksternal hilang (likes, followers, pengakuan), siapa kita sebenarnya?

Ada satu kalimat dalam teks yang membuat saya berhenti:

"Tanpa bayangan, tubuhnya terasa seperti kalimat tanpa tanda baca—terus menerus tanpa jeda untuk bernapas."

Kalimat ini brilian karena ia tidak menjelaskan—ia menunjukkan. Bayangan bukan sekadar visual marker. Bayangan adalah punctuation dari eksistensi kita. Tanpa bayangan, kita jadi run-on sentence: ada, tapi tidak terbaca.

Saya mulai menghubungkan ini dengan pengalaman modern. Apa yang terjadi ketika akun media sosial kita di-suspend? Ketika data kita hilang? Ketika foto-foto lama terhapus? Kita merasa seperti sebagian dari diri kita—atau setidaknya sebagian dari cerita kita—ikut lenyap. Jejak digital kita adalah bayangan kita di era ini. Dan seperti bayangan fisik, ia bisa hilang.

Wayang sebagai Framework Filosofis

Scene di Museum Sonobudoyo adalah jantung intelektual dari cerita ini. Di sini, Pak Hasan—seorang penjaga museum tua—menjelaskan filosofi wayang kepada Arjuna dan Sari:

"Dalam tradisi wayang, pertunjukan tidak terjadi di panggung. Pertunjukan terjadi di bayangan. Dalang duduk di belakang layar, memainkan wayang, dan yang penonton lihat adalah bayang-bayangnya—siluet yang hidup, bercerita, bertarung, mati, dan kadang, hidup lagi."

Ini adalah momen aha dalam teks. Wayang kulit—salah satu tradisi paling tua di Jawa—adalah seni tentang bayangan. Boneka kulit yang dipahat dengan indah sebenarnya tidak pernah dilihat oleh penonton. Yang dilihat adalah bayangannya di layar putih. Representasi, bukan realitas.

Konsep ini bergema dengan alegori gua Plato—manusia di dalam gua yang hanya melihat bayangan di dinding, mengira itu realitas. Tapi dalam konteks Jawa, ada twist: bayangan adalah pertunjukan. Bayangan bukan distorsi dari kebenaran; bayangan adalah medium di mana kebenaran diceritakan.

Pak Hasan kemudian menunjukkan wayang punakawan—tokoh kecil, pelayan—dan meletakkannya di depan lampu minyak. Bayangannya jatuh di dinding, besar, memenuhi ruangan. "Wayang ini kecil," katanya. "Tapi bayangannya bisa mengisi seluruh dinding."

Ini adalah kritik halus terhadap bagaimana kita mengukur nilai: bukan dari ukuran "asli" kita, tapi dari posisi kita terhadap cahaya. Di era media sosial, ini sangat relevan. Seseorang dengan platform kecil bisa punya pengaruh besar jika mereka berdiri di tempat yang tepat. Sebaliknya, orang dengan privilege besar bisa punya dampak minimal jika mereka tidak tahu cara menggunakan cahaya mereka.

Tapi wayang juga mengajarkan sesuatu yang lebih gelap: bayangan bisa menipu. Bayangan bisa membuat sesuatu yang kecil terlihat besar, atau sesuatu yang kompleks terlihat sederhana. Dan di sinilah karakter Sari masuk.

III. Topografi Karakter: Tiga Manusia dan Tiga Krisis

Arjuna: Manusia Bayangan

Nama "Arjuna" bukan kebetulan. Dalam Mahabharata, Arjuna adalah pahlawan yang paling manusiawi—selalu dilema, selalu bertanya, selalu terbelah antara dharma dan keinginan pribadi. Arjuna dalam "Zenith" mewarisi dilema yang sama: ia seorang juru arsip yang menghabiskan hidupnya mengkatalog jejak orang lain, tapi tidak pernah meninggalkan jejak sendiri yang ia anggap bermakna.

Ada yang tragis di sini. Profesi arsiparis adalah profesi tentang memori—menjaga agar jejak tidak hilang. Tapi Arjuna sendiri merasa seperti orang tanpa jejak. Ia hidup di bayangan ayahnya, yang juga seorang arsiparis, yang juga meninggal tanpa meninggalkan apa-apa kecuali kardus-kardus dokumen yang "tidak ada yang peduli".

Ketika bayangan fisiknya hilang pada pukul 11:24, Arjuna berpikir: "Aku sedang menghilang." Bukan "bayanganku menghilang"—tapi "aku sedang menghilang". Identitas dan bayangan sudah menjadi satu. Ini adalah imposter syndrome dalam bentuk paling ekstrem: perasaan bahwa kamu tidak benar-benar ada, hanya... berpura-pura ada.

Saya mengenali Arjuna. Bukan karena saya juru arsip, tapi karena saya juga pernah merasa seperti orang yang hanya... ada di latar belakang. Seperti ekstra dalam film orang lain. Dan mungkin itu yang membuat karakter ini bekerja: ia tidak heroik, tidak istimewa. Ia adalah kita di hari-hari ketika kita merasa tidak cukup.

Tapi arc-nya tidak melodramatis. Tidak ada momen katarsis yang besar. Transformasinya terjadi perlahan: dari "Aku sedang menghilang" di awal, ke "Aku bukan bayanganku. Tapi aku juga tidak lengkap tanpa bayangan itu" di warung kopi, sampai keputusan untuk pergi ke Semarang mengambil arsip ayahnya. Ia tidak tiba-tiba jadi hero. Ia hanya... memutuskan untuk berdiri.

Sari: Krisis Tanggung Jawab Naratif

Jika Arjuna adalah orang yang takut tidak meninggalkan jejak, Sari adalah orang yang takut pada jejak yang sudah ia tinggalkan. Ia seorang fotografer yang lima tahun lalu mengambil foto seorang politisi korup. Foto itu viral. Karier politisi itu hancur. Politisi itu bunuh diri.

"Aku pikir aku pahlawan," kata Sari. "Aku pikir aku sedang menerangi kegelapan. Tapi ternyata... aku hanya membuat bayangan yang salah. Aku membuat monster dari manusia yang memang bersalah, tapi masih manusia."

Ini adalah dilema yang sangat kontemporer. Di era di mana setiap orang bisa membuat konten viral, di mana cancel culture beroperasi dengan kecepatan cahaya, pertanyaan Sari adalah pertanyaan kita semua: Di mana batas antara akuntabilitas dan penghakiman? Kapan exposé menjadi eksekusi publik?

Yang membuat Sari menarik adalah ia tidak mencari pembenaran. Ia tidak bilang "politisi itu pantas". Ia mengakui kompleksitas: ya, orang itu bersalah. Tapi ia juga manusia. Dan narasi yang Sari ciptakan melalui foto itu—narasi tentang monster—mungkin terlalu sederhana untuk menangkap kompleksitas itu.

Fotografer adalah pembuat bayangan profesional. Mereka memilih sudut, cahaya, framing—dan dalam proses itu, mereka menciptakan representasi yang mungkin lebih powerful dari realitas. Sari belajar—dengan cara yang pahit—bahwa bayangan yang kita ciptakan punya konsekuensi nyata.

Ketika bayangannya kembali setelah kulminasi berakhir, Sari mengatakan sesuatu yang mengejutkan: ia merasa lebih bebas dengan adanya bayangan. "Karena aku tahu aku bisa kehilangannya dan tetap... ada. Aku bukan bayanganku."

Ini adalah acceptance yang matang. Bukan denial ("bayangan tidak penting"), bukan juga identifikasi total ("aku adalah bayanganku"). Tapi sintesis: bayangan adalah bagian dari kita, tapi bukan seluruh kita.

Pak Hasan: Wisdom tanpa Pretensi

Pak Hasan mudah sekali jadi karakter klise: lelaki tua bijak yang memberi nasihat. Tapi penulis menghindari jebakan itu dengan satu trik sederhana: Pak Hasan tidak banyak bicara. Ia membiarkan objek—wayang, blencong—yang berbicara.

Ketika Arjuna bertanya "apa yang terjadi kalau kita tidak pernah meninggalkan bayangan yang berarti?", Pak Hasan tidak menjawab dengan khotbah. Ia menyalakan lampu minyak, meletakkan wayang kecil di depannya, dan membiarkan Arjuna melihat sendiri: bayangan yang besar, yang mengisi dinding.

Ini adalah pedagogi yang baik. Tidak menjelaskan, tapi menunjukkan. Tidak memberi jawaban, tapi membuka ruang untuk penemuan.

Yang membuat Pak Hasan kredibel adalah ia juga tidak idealis. Ketika Sari berbicara tentang bagaimana ia membuat "bayangan yang salah", Pak Hasan tidak bilang "bayangan tidak pernah salah" atau memberikan platitude lainnya. Ia bilang: "Bayangan bukan benar atau salah. Bayangan adalah... interpretasi."

Ini adalah wisdom yang tidak menghibur tapi jujur. Dan kadang, kejujuran lebih berharga daripada kenyamanan.

IV. Yogyakarta sebagai Ruang Liminal

Penulis memilih Yogyakarta bukan kebetulan. Ini adalah kota yang hidup dari bayangannya—bayangan masa lalu, bayangan kerajaan, bayangan sebagai "kota budaya". Setiap sudut kota ini adalah palimpsest: lapisan sejarah yang bertumpuk. Malioboro dengan pedagang kakilima dan gedung-gedung kolonial. Museum Sonobudoyo yang menyimpan artefak keraton. Relief singa dan lambang VOC yang masih menempel di dinding.

Ketika bayangan hilang, relief di dinding VOC "kehilangan dimensinya", menjadi "datar". Ini adalah observasi yang brilian: bayangan memberi depth. Tanpa bayangan, sejarah pun jadi flat.

Ada ironi di sini. Yogyakarta adalah kota wisata yang ramai—ribuan orang datang setiap hari untuk berfoto, untuk meninggalkan jejak "pernah ke sini". Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, Arjuna mengalami krisis tentang ketiadaan jejak. Keramaian tidak menjamin makna. Visibility tidak sama dengan eksistensi.

Perjalanan Arjuna ke Semarang di akhir cerita adalah perjalanan dari public space ke private space. Dari kota wisata ke kota kelahiran. Dari tempat yang penuh orang asing ke rumah ibu. Secara geografis, ini hanya perjalanan kereta tiga jam. Tapi secara psikologis, ini adalah perjalanan pulang—tidak ke tempat, tapi ke diri sendiri.

Scene di gudang rumah ibu—ketika Arjuna menemukan buku catatan ayahnya—adalah salah satu momen paling mengharukan dalam cerita ini. Catatan harian sederhana. Tidak ada yang spektakuler. Hanya: "Arjuna lahir hari ini. Aku tidak tahu cara jadi ayah yang baik. Tapi aku akan mencoba meninggalkan sesuatu untuknya."

Jejak kecil. Tapi cukup.

V. Estetika dan Teknik: Bagaimana Teks Ini Bekerja

Prosa Puitis yang Fungsional

Ada bahaya dalam menulis prosa puitis: ia bisa jadi indah tapi kosong, seperti kemasan bagus tanpa isi. "Zenith" menghindari jebakan ini karena setiap metaforanya melayani narasi, bukan sekadar dekorasi.

Ambil contoh: "Detik-detik bergerak seperti sirup." Ini bukan hanya cara fancy untuk bilang "waktu berjalan lambat". Sirup adalah cairan yang thick, yang membuat segalanya bergerak dengan susah payah. Ketika waktu bergerak seperti sirup, kita merasakan resistensi, berat, effort dari setiap detik. Ini adalah bagaimana Arjuna merasakan waktu ketika bayangannya hilang: setiap momen adalah struggle untuk tetap nyata.

Atau ini: "Cahaya yang lewat." Frasa ini muncul beberapa kali dalam teks, seperti refrain. Pertama kali dalam konteks ayah Arjuna: "Cahaya yang lewat" tanpa meninggalkan jejak. Kedua kali dalam epilog: "Cahaya yang lewat. Tapi jejak yang tinggal." Repetisi dengan variasi ini—teknik yang sering digunakan dalam puisi—menciptakan evolusi makna. Dari pasif-nihilistik menjadi aktif-penuh harap.

Yang saya kagumi adalah penulis tahu kapan harus puitis dan kapan harus jernih. Scene di museum penuh dengan metafora dan simbolisme. Tapi scene di gudang rumah ibu—scene yang paling emosional—ditulis dengan sangat sederhana, hampir journalistic: "Arjuna membuka kardus. Di dalamnya: dokumen-dokumen tua, foto-foto keluarga yang tidak ia kenal, surat-surat tulisan tangan."

Kesederhanaan ini membuat penemuan buku catatan ayahnya jadi lebih powerful. Penulis tidak over-writing the emotion. Ia membiarkan momen berbicara sendiri.

Tempo dan Ritme

Membaca "Zenith" seperti mendengarkan musik dengan tempo yang bervariasi. Ada bagian yang lambat, kontemplartif—seperti adagio. Ada bagian yang bergerak cepat—seperti allegro. Penulis mengontrol tempo ini melalui panjang kalimat dan paragraf.

Ketika Arjuna baru menyadari bayangannya hilang, kalimatnya pendek-pendek, fragmentatif: "Arjuna membeku. Bayangannya... lenyap sama sekali." Pendek. Patah. Ini adalah tempo disorientasi.

Sebaliknya, ketika Arjuna duduk di kereta menuju Semarang, kalimatnya panjang, mengalir: "Kereta melaju menembus malam. Di luar jendela, lampu-lampu desa berkedip seperti bintang yang jatuh ke bumi." Ini adalah tempo refleksi, tempo seseorang yang sedang memproses.

Teknik ini—variasi tempo—membuat teks tidak monoton. Ia breathe. Ada ruang untuk pembaca bernapas.

VI. Resonansi Kontemporer: Mengapa Teks Ini Penting Hari Ini

Krisis Representasi di Era Digital

Ini adalah bagian di mana saya harus jujur: "Zenith" membuat saya tidak nyaman karena ia terlalu akurat dalam mendiagnosis kondisi kita hari ini.

Bayangan digital kita—profil media sosial, followers, likes, archive foto—adalah cara kita membuktikan eksistensi di abad ke-21. Ketika seseorang meninggal, yang pertama kita lihat adalah jejak digitalnya. Akun Instagram yang jadi memorial. Tweet terakhir yang jadi epitaph. Kita lebih percaya pada jejak digital daripada memori kita sendiri.

Tapi apa yang terjadi ketika jejak itu hilang? Penelitian dari Berkman Klein Center for Internet & Society di Harvard menunjukkan bahwa rata-rata orang memiliki 90 akun online yang aktif. Ketika satu platform tutup, atau akun di-suspend, kita kehilangan sebagian dari narasi diri kita. Seperti Arjuna kehilangan bayangannya.

Yang lebih menakutkan: kita mulai hidup untuk bayangan itu. Kita pergi ke tempat yang Instagrammable, bukan yang meaningful. Kita mengukur nilai pengalaman dari berapa banyak likes yang didapat, bukan dari apa yang kita rasakan. Bayangan jadi lebih penting dari tubuh.

"Zenith" tidak menghakimi ini. Teks tidak bilang "media sosial buruk" atau "teknologi membuat kita kehilangan diri". Teks hanya bertanya: Siapa kita ketika bayangan itu hilang? Dan apakah kita masih bisa berdiri tanpanya?

Jawaban teks adalah: ya, tapi tidak dengan mudah. Dan tidak sendirian.

Pencarian Makna dalam Kehidupan Biasa

Salah satu hal yang paling saya hargai dari "Zenith" adalah ia tidak mengagungkan kehidupan yang luar biasa. Arjuna bukan CEO, bukan seniman terkenal, bukan pahlawan. Ia juru arsip. Ayahnya juga juru arsip. Mereka tidak meninggalkan monumen. Tidak ada jalan yang dinamai dari nama mereka.

Tapi teks ini bilang: jejak mereka tetap berarti.

Di era yang terobsesi dengan "membuat dampak", dengan "meninggalkan legacy", dengan "mengubah dunia", "Zenith" adalah reminder yang lembut bahwa tidak semua orang harus atau bisa melakukan hal-hal besar. Dan itu tidak masalah. Jejak kecil—buku catatan harian, dokumen yang disimpan dengan rapi, percakapan dengan orang asing di warung kopi—juga adalah jejak.

Baris terakhir dari catatan ayah Arjuna: "Aku harap Arjuna tidak mengikuti jejakku. Aku harap dia menemukan cahayanya sendiri." Ini bukan kalimat seorang ayah yang merasa gagal. Ini kalimat seorang ayah yang paham: setiap orang punya cahayanya sendiri, dan bayangan yang diciptakan cahaya itu akan berbeda.

Tidak perlu besar. Cukup nyata.

Tradisi sebagai Sumber Perspektif

Saya bukan orang Jawa. Saya tidak tumbuh menonton wayang. Tapi saya memahami Pak Hasan dan filosofi yang ia sampaikan. Kenapa? Karena penulis tidak memperlakukan tradisi sebagai museum piece—sesuatu yang harus dihormati tapi tidak relevan. Penulis memperlakukan tradisi sebagai living wisdom: sesuatu yang masih bisa berbicara kepada kita hari ini.

Wayang sebagai metafora untuk kehidupan modern bekerja karena ia tidak dipaksakan. Penulis tidak bilang "kita harus kembali ke tradisi". Ia hanya menunjukkan: lihat, ada perspektif lain yang bisa membantu kita memahami krisis kita.

Ini adalah cara yang sehat untuk berhubungan dengan tradisi: bukan nostalgia, bukan juga rejection. Tapi dialog.

VII. Bayangan yang Kembali

Saya menutup laptop pukul tiga pagi hari itu. Kopi sudah habis. Mata saya perih. Tapi saya tidak langsung tidur. Saya berdiri, berjalan ke jendela, membuka tirai. Cahaya lampu jalan masuk, dan saya melihat bayangan saya di lantai. Panjang. Terdistorsi karena sudut cahaya. Tapi ada.

Saya memikirkan semua jejak yang pernah saya tinggalkan. Tulisan-tulisan yang mungkin tidak ada yang baca. Percakapan-percakapan yang mungkin sudah dilupakan orang. Keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak mengubah apa-apa dalam skema besar dunia.

Apakah itu cukup?

"Zenith" tidak memberi jawaban. Tapi ia memberi bahasa. Bahasa untuk berbicara tentang kehampaan tanpa jatuh ke nihilisme. Bahasa untuk berbicara tentang pencarian makna tanpa jatuh ke pretensi. Bahasa untuk berbicara tentang jejak kecil tanpa meremehkannya.

Teks ini bukan tentang menemukan jawaban. Teks ini tentang belajar hidup dengan pertanyaan.

Dan mungkin itu cukup. Mungkin bayangan kita tidak perlu besar atau permanen. Mungkin ia hanya perlu... ada. Bukti bahwa kita pernah berdiri di bawah matahari. Bukti bahwa kita pernah—untuk beberapa saat—nyata.

Saya tidak tahu apakah saya akan membaca "Zenith" lagi. Tapi saya tahu saya akan lebih memperhatikan bayangan saya. Bukan dengan paranoia. Tapi dengan rasa ingin tahu.

Siapa tahu apa yang akan saya temukan di sana.


Catatan: Tulisan ini adalah personal naratif kajian terhadap cerpen "Zenith" dari blog Nine Shadow Forces. Fenomena kulminasi Matahari yang menjadi latar cerita adalah fenomena astronomis nyata yang dapat dipelajari lebih lanjut melalui situs BMKG.

Kamis, Desember 04, 2025

Mangkuk di Tengah Malam

Mangkuk di Tengah Malam
Mangkuk di Tengah Malam

Mangkuk di Tengah Malam

Sebuah cerpen tentang cinta yang terlewatkan dan mangkuk-mangkuk yang tak terhitung

Bagian I: Hujan di Apartemen Lantai Tujuh

Rina duduk di meja makan dengan mangkuk keramik putih di hadapannya. Uap masih mengepul tipis dari permukaan kuah, membentuk spiral-spiral kecil yang menghilang begitu menyentuh udara dingin apartemen. Mie instan merek Indomie goreng—yang sama seperti yang selalu dibeli Ibu dulu untuk persediaan darurat. Bukan untuk dimakan, kata Ibu. Hanya kalau benar-benar terpaksa.

Tapi malam ini, Rina tidak tahu harus memasak apa lagi.

Pintu apartemen sudah ditutup keras sepuluh menit lalu. Maya—putrinya yang berusia tujuh belas tahun—pergi dengan tas ransel di punggung dan wajah yang merah padam. Rina masih bisa mendengar gema suara putrinya: "Ibu nggak pernah ngerti!" Kalimat yang sama persis yang pernah Rina teriakkan dua puluh lima tahun lalu.

Hujan mulai turun. Rintik-rintik dulu, lalu semakin deras. Dari jendela lantai tujuh, Jakarta malam hari terlihat seperti lukisan cat air yang luntur—lampu-lampu jalan berpendar oranye, gedung-gedung menjadi siluet hitam, dan di kejauhan, billboard iklan berkedip dengan ritme yang tidak teratur.

Rina mengambil sumpit. Mie-nya sudah mulai mengembang, menyerap kuah sampai lembek. Dia membiarkannya. Entah kenapa, malam ini dia tidak lapar. Atau mungkin terlalu lapar, sampai tidak tahu lagi apa artinya lapar.

Bagian II: Kedai yang Nyaris Tak Terlihat

Dua puluh lima tahun lalu, Rina juga berjalan dalam hujan.

Dia ingat—atau mengira ingat—bahwa malam itu adalah bulan Juni. Musim hujan. Udara berbau aspal basah dan sampah yang menggenang di got. Rina berusia tujuh belas tahun, sama seperti Maya sekarang. Dia baru saja keluar dari rumah setelah bertengkar dengan Ibu. Tentang apa? Rina tidak begitu ingat lagi detailnya—hanya ingat kemarahan yang membakar dada, perasaan dikhianati, keyakinan absolut bahwa dia benar dan Ibu salah.

Dia berjalan tanpa arah. Tidak membawa dompet, tidak membawa payung. Hanya kaus oblong dan celana jeans yang mulai basah kuyup. Kakinya membawanya ke Jalan Sabang, kawasan yang ramai dengan kedai-kedai makan malam. Lampu-lampu kuning dari warung tenda memantul di genangan air. Asap mengepul dari wajan-wajan besar. Aroma bawang putih ditumis, kecap manis, dan mie yang baru direbus memenuhi udara.

Rina berhenti di depan sebuah kedai kecil. Bukan yang paling ramai. Malah nyaris tersembunyi di antara dua toko yang sudah tutup. Hanya ada tiga meja plastik, satu kompor gas, dan seorang perempuan paruh baya yang sedang mengaduk kuah di panci besar.

"Mau pesan, Dek?" tanya perempuan itu tanpa mengangkat kepala.

Rina diam. Dia meremas ujung kausnya yang basah. Perutnya berbunyi, tapi mulutnya tidak bisa bicara.

Perempuan itu akhirnya mendongak. Matanya kecil, lelah, tapi ada kehangatan di sana—atau mungkin Rina hanya ingin percaya ada kehangatan.

"Belum makan ya? Duduk dulu. Basah kuyup gitu."

Rina tidak ingat apakah dia menjawab atau tidak. Yang dia ingat adalah duduk di kursi plastik merah yang retak, melihat perempuan itu memasukkan seikat mie kuning ke air mendidih, memecahkan telur dengan satu tangan, menuangkan kuah kaldu ayam ke mangkuk keramik yang sudah retak di satu sisi.

"Nggak usah bayar," kata perempuan itu sambil meletakkan mangkuk di depan Rina. "Kamu kelihatan butuh makan."

Momen Kehangatan yang Asing

Rina menatap mangkuk itu. Uap naik perlahan. Ada irisan daun bawang, sedikit bawang goreng, dan telur setengah matang yang kuningnya masih cair. Sangat sederhana. Tapi entah kenapa, sesuatu di dalam dadanya runtuh.

Dia mulai menangis. Tidak tahu kenapa. Atau tahu, tapi tidak mau mengakui.

"Kenapa nangis? Kuahnya kepedasan?" Perempuan itu tersenyum tipis. Bukan mengejek. Hanya... paham.

"Orang yang baru saya kenal saja bisa kasih saya makan," bisik Rina sambil mengelap mata dengan punggung tangan. "Tapi Ibu saya... tadi kami berantem. Dia bilang saya... dia bilang..."

Dia tidak melanjutkan. Kata-kata ibunya masih nyangkut di tenggorokan seperti tulang ikan.

Perempuan itu duduk di kursi seberang. Tangannya yang kasar—bekas luka bakar di beberapa tempat, kuku pendek dan hitam—melipat di atas meja.

"Kamu tahu berapa kali ibumu masak buat kamu?" tanyanya pelan. "Dari kamu kecil sampai sekarang. Setiap hari. Tiga kali sehari. Kadang lebih. Itu berapa mangkuk?"

Rina terdiam.

"Tapi untuk satu mangkuk dari orang asing, kamu nangis sampai kayak gini." Perempuan itu berdiri, kembali ke kompor. "Lucu ya, manusia."

Bagian III: Pulang ke Rumah yang Gelap

Rina menghabiskan mie-nya dalam diam. Rasanya biasa saja—tidak istimewa. Tapi setiap suapan terasa berat, seperti menelan sesuatu yang lebih dari sekadar mie dan kuah.

Ketika dia berdiri untuk pergi, perempuan itu melambaikan tangan tanpa berbalik. "Hati-hati di jalan."

Rina berjalan pulang dalam hujan yang sudah mereda. Langkahnya lambat. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakannya ketika bertemu Ibu. Maaf terasa terlalu kecil. Aku salah terasa terlalu sederhana. Aku mencintaimu—tidak, itu terlalu besar untuk diucapkan pada usia tujuh belas tahun.

Ketika sampai di rumah, pintu tidak terkunci. Lampu ruang makan menyala. Ibu duduk di sana, masih dengan celemek batik yang sama, rambut diikat asal. Ada piring nasi dan sayur di atas meja. Masih hangat. Ditutup tudung saji plastik.

"Sudah pulang?" Ibu tidak menatapnya. Hanya membuka tudung saji. "Makan dulu. Nanti dingin."

Rina berdiri di ambang pintu. Bajunya masih basah. Rambutnya menetes air hujan ke lantai. Dia ingin mengatakan sesuatu—banyak hal—tapi yang keluar hanya, "Iya, Bu."

Mereka tidak memeluk. Tidak ada permintaan maaf yang eksplisit. Hanya Rina yang duduk dan mulai makan, dan Ibu yang duduk di seberang sambil memotong-motong cabai rawit untuk sambal besok pagi. Ritual yang biasa. Cinta yang tidak pernah bersuara keras, tapi ada di setiap potongan cabai, setiap tudung saji, setiap lampu yang tetap menyala sampai anak pulang.

Bagian IV: Sepuluh Tahun Tanpa Lampu yang Menyala

Ibu meninggal sepuluh tahun lalu. Kanker pankreas stadium empat. Dari diagnosis sampai kematian hanya empat bulan. Terlalu cepat untuk persiapan. Terlalu cepat untuk kata-kata yang tertunda.

Rina ingat hari-hari terakhir di rumah sakit. Ibu sudah tidak bisa makan lagi. Tubuhnya menyusut sampai tinggal tulang dan kulit. Tapi matanya masih tajam, masih mengamati Rina dengan cara yang sama seperti dulu.

"Maya sudah makan?" itu yang selalu ditanyakan Ibu. Bukan kamu sudah makan? Tapi Maya, cucu perempuannya yang waktu itu baru tujuh tahun.

"Sudah, Bu. Saya masakin."

"Jangan lupa sayurnya. Anak kecil harus banyak makan sayur."

Rina mengangguk. Dia ingin mengatakan banyak hal. Terima kasih sudah memasak untukku selama dua puluh tujuh tahun. Terima kasih sudah menungguku pulang setiap malam. Terima kasih sudah tidak pernah benar-benar marah meskipun aku sering menyakitimu.

Tapi yang keluar hanya, "Ibu istirahat ya."

Dua hari kemudian, Ibu meninggal dalam tidur. Tanpa sempat mengatakan selamat tinggal. Atau mungkin sudah mengatakan, lewat cara-cara yang tidak Rina pahami waktu itu.

"Cinta terbesar sering kali adalah yang paling sunyi. Ia tidak berteriak, tidak minta diakui. Ia hanya ada, seperti udara yang kita hirup tanpa sadari."

Bagian V: Telepon yang Tidak Berdering

Rina mengangkat sumpit lagi. Mie-nya sudah benar-benar lembek sekarang, hampir hancur. Dia memasukkan satu suap ke mulut. Teksturnya seperti bubur, rasa MSG-nya terlalu kuat, tidak ada kehangatan—hanya mekanis, fungsional, sesuatu yang mengisi perut tapi tidak mengenyangkan jiwa.

Teleponnya tergeletak di samping mangkuk. Layarnya gelap. Tidak ada pesan dari Maya. Sudah empat puluh menit.

Rina membayangkan putrinya sekarang—mungkin sedang berjalan dalam hujan, seperti dirinya dulu. Mungkin duduk di kedai Indomie pinggir jalan, mungkin menangis, mungkin marah, mungkin keduanya sekaligus. Rina ingin menelepon, tapi tangannya tidak bergerak. Bagaimana cara mengatakan maaf ketika kamu bahkan tidak yakin apa kesalahanmu?

Mereka bertengkar karena hal sepele—Maya ingin ikut konser musik sampai larut malam, Rina tidak mengizinkan. Lalu Maya mengatakan Rina terlalu mengekang, tidak pernah mengerti, selalu menganggap Maya masih anak kecil. Dan Rina—karena lelah, karena sendirian mengurus semuanya sejak suaminya meninggal, karena takut kehilangan satu-satunya orang yang tersisa—membentak balik.

"Kamu pikir gampang jadi ibu? Kamu pikir aku nggak capek?"

Dan Maya menjawab dengan mata berkaca-kaca, "Kalau capek ya bilang aja. Aku nggak minta dilahirin juga."

Pintu dibanting. Rina terduduk di sofa. Menangis sejadi-jadinya.

Ketika Siklus Berulang

Sekarang, duduk di depan mangkuk mie yang dingin, Rina mengerti. Dia mengerti kenapa Ibu dulu tidak pernah mengatakan maaf dengan kata-kata. Karena maaf terlalu kecil untuk menampung semua yang ingin dikatakan. Karena sebagai ibu, kamu tidak pernah benar-benar tahu apakah yang kamu lakukan itu benar atau salah—kamu hanya melakukan yang terbaik yang kamu bisa, dengan keterbatasan dan ketakutanmu sendiri.

Rina teringat sebuah artikel yang pernah dibacanya tentang bagaimana memori manusia bekerja—bahwa kita tidak benar-benar mengingat kejadian, tapi mengingat versi terakhir kita mengingat kejadian itu. Setiap kali kita mengingat, kita merekonstruksi. Menambah, mengurangi, mengubah. Apakah kedai mie itu benar-benar ada? Apakah perempuan itu benar-benar mengatakan hal itu? Atau Rina yang membuat cerita itu untuk dirinya sendiri, untuk memberi makna pada kepulangannya?

Tidak penting lagi. Yang penting adalah: dia pulang. Dan Ibu menunggunya dengan lampu yang menyala dan nasi yang masih hangat.

Sekarang giliran Rina yang menunggu.

Bagian VI: Mangkuk yang Tak Terhitung

Rina mencoba mengingat berapa kali Ibu memasak untuknya. Tiga kali sehari, setiap hari, selama... dua puluh tujuh tahun sampai Rina menikah dan pindah. Itu sekitar 29.565 kali. Belum termasuk camilan, makanan sakit, makanan tengah malam ketika Rina belajar untuk ujian.

Berapa kali Rina mengatakan terima kasih? Dia tidak ingat. Mungkin tidak pernah.

Karena kita tidak berterima kasih pada udara yang kita hirup. Kita tidak berterima kasih pada jantung yang berdetak sendiri. Kita tidak berterima kasih pada hal-hal yang selalu ada—sampai tidak ada lagi.

Teleponnya tiba-tiba bergetar.

Rina hampir menjatuhkan sumpit. Dia meraih telepon dengan tangan yang gemetar. Nama Maya muncul di layar.

Tapi bukan panggilan telepon. Hanya pesan teks. Singkat.

"Di rumah Tante Lisa. Malem ini nginep di sini."

Rina menatap layar. Tangannya ingin mengetik banyak hal. Pulang ya, Sayang. Ibu nggak marah. Ibu cuma khawatir. Ibu cinta kamu. Tapi jari-jarinya hanya mengetik, "Oke. Jaga diri. Ada nasi goreng di kulkas kalau kamu laper nanti."

Dia menekan kirim. Lalu meletakkan telepon.

Di luar, hujan masih turun. Rina kembali menatap mangkuknya. Mie-nya sudah dingin sempurna sekarang. Tidak ada lagi uap. Hanya mangkuk keramik putih dengan sisa kuah yang mengental di dasar.

Dia mengangkat mangkuk itu dan membawanya ke dapur. Menuangkan isinya ke tempat sampah. Mencuci mangkuk sampai bersih. Lalu dia membuka kulkas dan mengeluarkan telur, sawi, bawang putih, kecap manis.

Rina mulai memasak. Bukan untuk malam ini—Maya tidak akan pulang. Tapi untuk besok pagi. Untuk ketika Maya pulang. Untuk nasi goreng yang akan Rina masukkan ke wadah plastik, tutup rapat, dan simpan di kulkas. Mungkin Maya akan memakannya, mungkin tidak. Tapi itu tidak penting.

Yang penting adalah: mangkuk itu ada. Ketika seseorang akhirnya lapar, ketika seseorang akhirnya pulang.

Epilog: Lampu yang Tetap Menyala

Dua hari kemudian, Maya pulang.

Pintu terbuka pelan. Sudah sore. Rina sedang duduk di sofa, pura-pura membaca buku. Sebenarnya dia sudah mendengar langkah kaki Maya dari tangga darurat.

"Ibu," panggil Maya pelan.

Rina mendongak. Maya berdiri di ambang pintu dengan tas ransel di punggung, mata sembab, dan wajah yang lebih lelah dari yang seharusnya dimiliki seorang remaja tujuh belas tahun.

"Sudah pulang?" Rina berusaha menjaga suaranya tetap datar. "Makan dulu. Ada nasi goreng di kulkas. Ibu hangatkan ya."

Dia berjalan ke dapur tanpa menunggu jawaban. Mengeluarkan wadah plastik, menuangkan nasi goreng ke piring, memasukkannya ke microwave. Suara denging microwave mengisi kesunyian. Rina berdiri membelakangi ruang makan, menatap pintu microwave yang berputar, menghitung detik.

Ketika dia berbalik dengan piring di tangan, Maya sudah duduk di meja makan. Tidak mengatakan apa-apa. Hanya duduk dengan tangan dilipat di atas meja, seperti anak kecil yang menunggu makan malam.

Rina meletakkan piring di depan putrinya. Lalu duduk di seberang. Mereka tidak saling menatap. Hanya ada suara sendok yang menyentuh piring, kunyahan pelan, dan hujan yang mulai turun lagi di luar.

"Enak," bisik Maya akhirnya.

"Telurnya kebanyakan," jawab Rina. "Lain kali Ibu kurangin."

"Nggak. Enak gini."

Mereka diam lagi. Tapi kali ini, kesunyian itu berbeda. Bukan kesunyian yang dingin, tapi kesunyian yang hangat—seperti selimut, seperti pelukan, seperti rumah.

Maya menghabiskan nasi gorengnya. Lalu dia berdiri, membawa piring ke wastafel, mencucinya sendiri. Rina tidak menyuruh. Maya tidak minta disuruh. Mereka hanya bergerak dalam koreografi yang sudah dipelajari bertahun-tahun—tarian kecil ibu dan anak yang tidak perlu kata-kata.

"Ibu," panggil Maya dari wastafel.

"Iya?"

"Maaf."

Rina menoleh. Maya masih membelakanginya, sibuk mengelap piring dengan lap yang sudah kusam.

"Ibu juga minta maaf," kata Rina pelan. "Ibu... kadang Ibu nggak tahu caranya. Jadi ibu. Untuk kamu."

Maya meletakkan piring di rak. Lalu berbalik. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tersenyum—senyum tipis yang rapuh tapi nyata.

"Ibu udah baik kok. Aku yang... aku yang nggak tahu cara bilang terima kasih."

Mereka tidak berpelukan. Tidak ada adegan dramatis. Hanya Maya yang kembali ke kamarnya dengan langkah ringan, dan Rina yang duduk sendirian di meja makan, menatap piring yang masih ada sisa nasi goreng sedikit di sudutnya.

Dia mengambil piring itu dan menghabiskan sisanya. Dingin. Agak keras. Tapi entah kenapa, itu adalah nasi goreng paling enak yang pernah Rina makan.


Di suatu tempat di Jakarta, mungkin masih ada kedai kecil dengan tiga meja plastik dan perempuan paruh baya yang memasak mie untuk orang asing yang lapar. Atau mungkin tidak. Mungkin kedai itu tidak pernah ada. Mungkin itu hanya cerita yang kita ceritakan pada diri sendiri agar bisa pulang.

Tapi mangkuk-mangkuk itu nyata. Setiap hari. Tiga kali sehari. Selama bertahun-tahun. Mangkuk-mangkuk yang tidak pernah kita hitung sampai sudah tidak ada lagi yang mengisinya.

Dan mungkin, cinta terbesar adalah cinta yang tidak pernah minta dihitung.

Rabu, Desember 03, 2025

Orang yang Menjadi Sungai

Orang yang Menjadi Sungai

Orang yang Menjadi Sungai

Sebuah cerpen tentang pencarian, kehilangan, dan menemukan kedamaian di tepian sungai yang mengalir tanpa tujuan.

"Sungai ini ingat padaku, tapi aku tidak yakin aku ingat padanya. Atau mungkin kita berdua berpura-pura ingat."

I. Hening Sebelum Arus

Pagi buta di tepian Sungai Kapuas selalu dimulai dengan kabut. Bukan kabut tipis yang romantis seperti dalam puisi, tapi kabut tebal yang menempel di kulit, masuk ke paru-paru, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan sesuatu yang hidup. Kala duduk di pinggir dermaga kayu yang lapuk, kaki menggantung lima belas sentimeter di atas permukaan air yang cokelat kehijauan. Airnya tidak jernih, tidak pula keruh. Seperti teh tanpa gula yang didiamkan terlalu lama.

Ia membawa tas ransel lusuh—hadiah dari seseorang yang sekarang sudah tidak penting lagi—berisi tiga benda: notebook Mrs. Dalloway yang sudah ia baca berulang kali hingga halamannya menguning, botol air mineral setengah kosong yang ia beli di rest area tiga hari lalu, dan foto polaroid seorang laki-laki yang wajahnya sudah memudar. Bukan karena air atau sinar matahari, tapi karena Kala terlalu sering menatapnya, seolah menatap bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang.

Dermaga ini dulu lebih panjang. Kala ingat itu. Atau ia pikir ia ingat. Memori itu licin seperti ikan—semakin keras kau genggam, semakin cepat ia meluncur lepas.

Lima belas tahun. Itu waktu yang cukup lama untuk melupakan detail. Tapi anehnya, ia ingat bau lumpur dan ikan membusuk yang persis sama dengan sekarang. Ia ingat suara air mendesis di celah-celah kayu dermaga yang mulai keropos. Ia ingat bagaimana ayahnya dulu berdiri di ujung dermaga, menatap sungai dengan tatapan yang tidak pernah ia mengerti—tatapan orang yang sedang mencari sesuatu yang tidak ada di depan matanya, tapi di tempat lain yang lebih jauh, lebih dalam.

"Kenapa Ayah suka sekali memandangi sungai?" tanya Kala kecil waktu itu, usianya tujuh atau delapan tahun.

"Karena sungai tidak pernah berhenti," jawab ayahnya. "Sementara kita harus berhenti terus."

Waktu itu Kala tidak mengerti. Sekarang, di usia tiga puluh empat tahun, dengan gelar doktor sastra yang tergantung di dinding apartemen kosong di Jakarta, ia mulai paham. Atau lebih tepatnya: ia mulai merasakan apa yang ayahnya rasakan. Keresahan tanpa nama. Kehausan tanpa air.

Kala adalah mantan dosen—bukan karena dipecat, tapi karena suatu pagi ia bangun dan menyadari ia tidak tahu lagi kenapa ia mengajar. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia membaca buku karena ingin, bukan karena harus. Ia tidak ingat kapan terakhir kali sebuah kalimat membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Semua kata-kata itu—Woolf, Joyce, Faulkner, semua stream of consciousness yang ia pelajari bertahun-tahun—tiba-tiba terasa seperti asing, seperti bahasa yang ia pernah kuasai tapi kini lupa cara mengucapkannya.

Maka ia datang ke sini. Ke kampung halamannya yang bahkan bukan kampung halaman dalam arti sebenarnya, karena ia hanya tinggal di sini sampai usia sepuluh tahun sebelum pindah ke kota. Tapi kalau bukan di sini, mau ke mana lagi? Orang yang tersesat biasanya kembali ke titik awal, bukan?

Air sungai mendesis lagi. Kala menatap permukaannya, mencoba melihat bayangannya sendiri. Tapi airnya terlalu gelap, atau matahari belum cukup tinggi. Yang ia lihat hanya siluet samar—bisa siapa saja, bisa bukan siapa-siapa.

Di kejauhan, seekor burung—Kala tidak tahu namanya, ia bukan orang yang pandai soal burung—terbang rendah menyisir permukaan air, lalu hinggap di tiang kayu yang mencuat dari sungai. Burung itu tidak bergerak lagi. Hanya diam, seperti patung. Seperti menunggu sesuatu yang tidak akan datang.

Kala merogoh tasnya, mengeluarkan notebook Woolf. Ia membuka halaman yang sudah ia lipat ujungnya, sebuah kalimat yang ia garis bawahi dengan pulpen merah:

"What is the meaning of life? A simple question; one that tended to close in on one with years. The great revelation had never come. The great revelation perhaps never did come. Instead, there were little daily miracles, illuminations, matches struck unexpectedly in the dark."

Kala membaca kalimat itu untuk keseratus kalinya—atau mungkin lebih—dan tetap tidak menemukan jawaban. Tapi mungkin itulah intinya. Virginia Woolf tidak pernah menawarkan jawaban. Ia hanya menawarkan pertanyaan yang lebih tajam, lebih jujur.

Kabut mulai menipis. Matahari naik perlahan, seperti enggan. Kala menutup bukunya, memasukkannya kembali ke tas. Ia berdiri, meregangkan punggung yang kaku. Lalu ia melihatnya: perahu kecil berwarna biru pudar, terikat di dermaga sebelah. Dan seorang laki-laki tua sedang duduk di dalam perahu itu, menggulung jala dengan gerakan mekanis, seperti sudah dilakukan ribuan kali hingga tubuhnya ingat sendiri caranya.

Pak Darmo. Ia masih ingat nama itu.

II. Pertemuan dengan Sang Ferryman

Pak Darmo tidak menoleh saat Kala mendekat. Tangannya terus menggulung jala, gerakan repetitif yang menenangkan untuk dilihat. Ada ritme di sana, seperti musik tanpa nada. Kala berdiri di tepi dermaga, tidak yakin harus menyapa dulu atau menunggu.

"Mau nyeberang?" tanya Pak Darmo tiba-tiba, tanpa menoleh.

Kala terkejut. "Pak Darmo ingat saya?"

"Nggak." Pak Darmo akhirnya menoleh, menatap Kala dengan mata yang sayu. "Tapi orang yang datang pagi-pagi ke dermaga cuma dua jenis: nelayan, atau orang yang mau nyeberang ke pulau. Kau bukan nelayan."

Kala tersenyum tipis. Logika yang sederhana tapi sulit dibantah.

"Ya," jawab Kala. "Saya mau ke pulau itu." Ia menunjuk gundukan tanah kecil di tengah sungai, sekitar dua ratus meter dari dermaga. Pulau yang bahkan terlalu kecil untuk disebut pulau. Lebih seperti ilalang yang tumbuh di atas tanah yang terangkat.

Pak Darmo berhenti menggulung jala. Ia menatap pulau itu, lalu menatap Kala lagi. "Kenapa?"

"Saya tidak tahu," jawab Kala jujur. "Tapi saya pikir ada sesuatu di sana."

"Nggak ada apa-apa di sana."

"Kalau begitu saya mau lihat tidak-ada-apa-apa itu."

Pak Darmo terdiam. Ia meletakkan jalanya ke dasar perahu, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong bajunya. Rokok Gudang Garam yang bungkusnya sudah lusut. Ia menawarkan pada Kala, tapi Kala menggeleng. Pak Darmo menyalakan rokoknya, menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke arah sungai.

"Sungainya lagi galau," kata Pak Darmo. "Airnya lagi cari jalan baru."

Kala mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Arusnya aneh. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang ke kanan, kadang ke kiri. Sungai ini biasanya nggak gitu." Pak Darmo menghisap rokoknya lagi. "Makanya saya nggak mau anterin orang nyeberang hari ini."

"Tapi Bapak nelayan, kan? Harusnya biasa dengan arus."

"Justru karena saya nelayan, saya tahu kapan harus percaya sama sungai, kapan enggak."

Kala duduk di tepi dermaga, membiarkan kakinya menjuntai lagi. Ia menatap permukaan air yang mulai berkilau terkena matahari. Dari sini, arus memang terlihat aneh—ada riak-riak kecil yang bergerak ke arah berbeda, seperti air sedang bingung mau ke mana.

"Kenapa orang selalu bilang sungai mengalir?" tanya Kala tiba-tiba.

Pak Darmo menatapnya. "Ya memang mengalir."

"Tapi mengalir ke mana? Kalau semua air di dunia ini terhubung—sungai ke laut, laut menguap jadi awan, awan jatuh jadi hujan, hujan kembali ke sungai—berarti sungai ini sebetulnya tidak ke mana-mana. Hanya berputar."

Pak Darmo tidak langsung menjawab. Ia membuang puntung rokoknya ke air, lalu menatap punggung tangannya yang keriput, penuh bintik-bintik cokelat. "Anak saya dulu juga suka ngomong kayak gitu," katanya pelan. "Ngomong yang aneh-aneh. Filsafat katanya."

"Anak Bapak ke mana sekarang?"

"Nggak tahu." Pak Darmo mengambil rokok lagi, menyalakannya. "Terakhir saya lihat dua puluh tahun lalu. Dia bilang mau ke Jakarta, cari kerja. Terus nggak pernah balik."

Kala terdiam. Ia tidak tahu harus bilang apa—semua kata-kata penghiburan terasa palsu sebelum diucapkan.

"Orang yang pergi ke sungai terlalu lama," kata Pak Darmo lagi, "biasanya jadi bagian dari sungai. Air masuk ke dalam diri. Terus mereka lupa cara jadi manusia." Ia menatap Kala. "Kau yakin mau ke pulau itu?"

"Ya."

"Kenapa?"

Kala menatap foto polaroid di tangannya—ia tidak sadar kapan ia mengeluarkannya dari tas. Wajah di foto itu semakin kabur. Sebentar lagi mungkin tidak ada wajah lagi, hanya bentuk samar yang bisa siapa saja.

"Karena saya pikir ayah saya pernah ke sana," jawab Kala. "Dan saya ingin tahu apa yang ia cari."

Pak Darmo menatap pulau itu lagi, lalu menghela napas panjang. "Perahu kecil di sebelah itu," ia menunjuk perahu kayu lain yang lebih kecil, lebih tua. "Kau bisa pakai. Tapi kalau tenggelam, jangan salahkan saya."

"Terima kasih, Pak."

"Jangan bilang terima kasih dulu. Kau belum tahu apa yang akan kau temukan di sana."

III. Menyeberang

Perahu kecil itu ternyata lebih kecil dari yang Kala kira. Hanya cukup untuk satu orang dan sebilah dayung kayu yang sudah retak di bagian pegangannya. Kala naik dengan hati-hati, merasakan perahu bergoyang mengikuti arus. Ia duduk, meletakkan tasnya di depan, lalu melepas tali yang mengikat perahu ke dermaga.

Pak Darmo berdiri di tepi, menatap dengan tatapan yang sulit dibaca. "Hati-hati," katanya. Hanya itu.

Kala mulai mendayung. Gerakannya canggung—sudah lama ia tidak mendayung perahu, mungkin sejak ia masih kecil, saat ayahnya mengajarkannya. Satu tarikan kuat, lalu angkat dayung, taruh lagi di air, tarikan kuat lagi. Ritme yang seharusnya sederhana, tapi entah kenapa terasa berat sekarang.

Matahari sudah naik penuh, menyengat kulit. Permukaan air berkilau seperti kaca pecah. Kala menutup mata sebentar, merasakan panas di kelopak mata. Saat ia membuka mata lagi, ia menyadari sesuatu yang aneh: perahu tidak bergerak.

Atau lebih tepatnya, perahu bergerak—ia bisa merasakan arus mendorong lambung kayu—tapi tidak maju. Seperti berlari di atas treadmill. Bergerak tapi tidak ke mana-mana.

Kala mendayung lebih kuat. Otot lengannya mulai panas, keringat menetes di pelipis. Tapi perahunya tetap di tempat yang sama. Pulau itu masih sejauh tadi. Dermaga masih sedekat tadi.

"Pak Darmo!" panggilnya. Tapi tidak ada jawaban. Saat ia menoleh ke belakang, Pak Darmo sudah tidak ada di dermaga. Atau dermaga itu sendiri yang tidak ada? Kala tidak yakin. Yang ia lihat hanya kabut—padahal tadi kabut sudah hilang—kabut tebal yang menutupi segalanya.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia meletakkan dayung, mencoba menenangkan diri. Ini hanya arus. Ini hanya air. Tidak ada yang aneh.

Tapi saat ia menatap permukaan air di samping perahu, ia melihat bayangannya. Dan bayangan itu tidak mengikuti gerakannya.

Kala mengangkat tangan kanan. Bayangan di air mengangkat tangan kiri. Kala melambaikan tangan. Bayangan itu diam saja.

"Sialan," gumam Kala. Kau cuma kelelahan. Kau cuma belum tidur cukup. Ini cuma halusinasi.

Tapi saat ia menatap lagi, bayangan itu tersenyum. Dan Kala tidak sedang tersenyum.

Lalu ia mendengar suara. Bukan dari air, tapi dari dalam air. Suara seperti berbisik, tapi terlalu banyak suara sekaligus hingga terdengar seperti desisan. Kala mendekatkan telinga ke permukaan air—gerakan bodoh, ia tahu itu—dan suara-suara itu menjadi lebih jelas:

"Kamu tidak perlu sampai."

"Kamu sudah ada di sini."

"Kamu selalu ada di sini."

Kala menarik kepalanya cepat-cepat, napasnya tersengal. Ia menatap sekeliling—kabut semakin tebal, atau semakin tipis? Ia tidak bisa membedakan lagi. Matahari seperti bergerak terlalu cepat, atau terlalu lambat, ia tidak tahu mana yang benar.

Lalu ia melihat mereka.

Tiga sosok berenang di sekitar perahu. Atau tidak berenang—lebih seperti mengapung, kepala muncul di permukaan air, menatap Kala dengan mata yang terlalu familiar.

Sosok pertama adalah anak kecil, tujuh atau delapan tahun, dengan rambut basah menempel di wajah. Kala kecil.

Sosok kedua adalah perempuan muda, sembilan belas tahun, dengan tatapan tajam dan sedikit arogan. Kala saat kuliah.

Sosok ketiga adalah perempuan paruh baya, mungkin lima puluh tahun, dengan kerutan di sudut mata dan senyuman lelah. Kala yang belum ada.

Mereka semua menatap Kala—Kala yang sekarang, Kala yang duduk di perahu, Kala yang tidak tahu lagi mana yang nyata.

"Kamu tidak perlu sampai," kata Kala kecil.

"Kamu sudah ada di sini," kata Kala sembilan belas tahun.

"Kamu selalu ada di sini," kata Kala lima puluh tahun.

Lalu mereka menghilang. Bukan tenggelam—hanya menghilang, seperti tidak pernah ada.

Kala menutup mata, menarik napas panjang. Satu, dua, tiga, empat. Teknik pernapasan yang diajarkan psikolognya dulu. Lima, enam, tujuh, delapan. Saat ia membuka mata lagi, kabut sudah hilang. Matahari kembali ke posisi normal. Dan pulau itu—pulau kecil itu—sudah ada di depannya, hanya sepuluh meter lagi.

Kala mendayung. Kali ini perahunya bergerak. Tiga tarikan, dan lambung kayu menyentuh tanah pulau dengan bunyi goresan lembut.

Ia turun dari perahu, kakinya tenggelam sedikit di lumpur. Ia menarik perahu ke darat, mengikatnya ke akar pohon yang mencuat. Lalu ia berbalik, menatap pulau kecil yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.

Ada sesuatu di sana. Sebuah bangunan. Rumah kayu tua yang setengah roboh.

IV. Pulau yang Bukan Pulau

Rumah itu lebih kecil dari yang Kala bayangkan. Hanya satu ruangan, dengan atap seng yang sudah berkarat dan dinding kayu yang mulai lapuk. Pintu kayunya miring di engsel, setengah terbuka, seperti undangan atau peringatan—Kala tidak tahu yang mana.

Ia melangkah hati-hati, menghindari papan yang terlihat rapuh. Lantainya masih cukup kuat, tapi berderit setiap kali Kala melangkah. Cahaya masuk dari celah-celah atap, membuat garis-garis terang di lantai berdebu.

Di pojok ruangan ada meja kayu kecil. Di atas meja itu: sebuah lampu minyak tanpa minyak, gelas kaca retak, dan sebuah buku catatan dengan sampul kulit yang sudah mengelupas.

Kala mengangkat buku itu. Beratnya terasa aneh di tangan—terlalu ringan untuk ukurannya, seperti sebagian isinya sudah hilang entah ke mana. Ia membuka halaman pertama.

Tulisan tangan. Rapi, dengan tinta biru yang sudah memudar.

"17 Maret 1991

Aku datang ke pulau ini karena tidak tahu harus ke mana lagi. Orang bilang kalau kau tersesat, kembali ke sungai. Tapi aku sudah di sungai, dan tetap tidak tahu arah."

Kala membalik halaman. Tulisannya masih rapi.

"23 Maret 1991

Hari ini aku mencoba membaca Woolf lagi. Mrs. Dalloway. Tapi aku tidak bisa konsentrasi. Kata-katanya seperti mengalir terus, seperti sungai, dan aku tidak bisa menangkap artinya. Atau mungkin memang tidak ada artinya. Mungkin itulah intinya."

Jantung Kala mulai berdetak lebih cepat. Ia membalik beberapa halaman, membaca secara acak.

"7 April 1991

Kadang aku berpikir: apa bedanya aku dengan air di sungai ini? Kami sama-sama mengalir tanpa tahu tujuan. Kami sama-sama tidak bisa berhenti. Kami sama-sama akan hilang ke tempat yang lebih besar—laut, atau entahlah—dan tidak ada yang akan ingat kami pernah ada."

Tulisannya mulai berubah. Di halaman-halaman selanjutnya, tulisan tangannya tidak lagi rapi. Lebih terburu-buru, lebih kacau, beberapa kata dicoret, beberapa kalimat tidak selesai.

"20 April 1991

Aku pikir aku datang mencari sesuatu. Ternyata yang aku cari adalah cara untuk berhenti mencari. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana cara berhenti bertanya? Bagaimana cara—"

Kalimat itu tidak selesai. Halaman berikutnya kosong. Dan halaman setelahnya. Dan setelahnya lagi.

Kala membalik ke halaman terakhir yang ada tulisannya. Di sana, hanya ada satu kalimat, ditulis dengan huruf besar, tinta hampir menembus kertas:

"SUNGAI INI ADALAH AKU. AKU ADALAH SUNGAI INI."

Lalu di bawahnya, dengan tulisan tangan yang sudah kembali lebih tenang:

"Untuk Kala, jika suatu hari kau membaca ini: maafkan ayahmu. Aku tidak tahu cara menjelaskan. Aku hanya tahu aku harus pergi sebelum aku benar-benar hilang."

Kala menjatuhkan buku itu. Tangannya gemetar. Ia mundur selangkah, dua langkah, punggungnya menyentuh dinding kayu. Ayahnya. Ini tulisan ayahnya.

Ayahnya yang pergi saat Kala berusia sepuluh tahun. Ayahnya yang katanya pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Ayahnya yang tidak pernah kembali, tidak pernah menelepon, tidak pernah mengirim surat. Ayahnya yang ibunya bilang sudah meninggal—tapi tidak pernah ada pemakaman, tidak pernah ada bukti.

Dan ternyata ayahnya pernah ke sini. Ke pulau ini. Setahun sebelum ia pergi. Menulis di buku catatan ini, menulis tentang Woolf, menulis tentang sungai, menulis tentang hilang.

Kala mengambil buku itu lagi, membacanya dari awal. Setiap kalimat terasa seperti cermin—ia bisa melihat dirinya sendiri di sana. Keresahan yang sama. Pertanyaan yang sama. Kehausan tanpa air yang sama.

Ia teringat kata-kata Pak Darmo: "Orang yang pergi ke sungai terlalu lama, biasanya jadi bagian dari sungai."

Apakah itu yang terjadi pada ayahnya? Apakah ia benar-benar hilang—tidak dalam artian meninggal, tapi dalam artian larut, menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang bukan lagi manusia?

Kala menatap keluar jendela kecil. Dari sini ia bisa melihat sungai, airnya yang cokelat kehijauan, arusnya yang aneh, bergerak ke arah yang tidak menentu. Ia mencoba membayangkan ayahnya berdiri di sini, menatap sungai yang sama, merasakan keresahan yang sama.

Lalu ia mengerti.

Ia tidak mewarisi keresahan itu. Ia adalah keresahan itu. Dalam bentuk berbeda, dengan pertanyaan berbeda, tapi esensinya sama. Seperti air yang mengalir dari satu sungai ke sungai lain—bentuknya berubah, tapi tetap air.

Dan mungkin itulah jawaban yang selama ini ia cari: tidak ada jawaban. Hanya ada aliran. Hanya ada gerak tanpa tujuan. Hanya ada pertanyaan yang melahirkan pertanyaan lain, selamanya.

Kala duduk di lantai, memeluk lututnya. Ia tidak menangis—ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya duduk, membiarkan cahaya dari celah atap menyentuh rambutnya, membiarkan waktu berlalu tanpa arti.

Entah berapa lama ia duduk di sana. Mungkin satu jam, mungkin lima menit—di pulau ini, waktu terasa seperti tidak punya bentuk.

Akhirnya ia berdiri. Ia mengambil buku catatan ayahnya, memasukkannya ke dalam tas. Lalu ia keluar dari rumah kecil itu, menutup pintu yang miring, dan berjalan kembali ke perahu.

V. Kembali ke Tepi

Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Atau mungkin Kala sudah tidak peduli lagi dengan kecepatan. Ia mendayung dengan gerakan mekanis, tidak berpikir, hanya bergerak. Arusnya tenang sekarang—anehnya—seperti sungai sudah menemukan jalannya kembali.

Saat perahu menyentuh dermaga, Pak Darmo sudah menunggu di sana. Ia berdiri dengan tangan dilipat di dada, menatap Kala dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Dapat apa?" tanyanya.

Kala turun dari perahu, kakinya sedikit gemetar—entah karena kelelahan atau karena hal lain yang ia sendiri tidak mengerti. Ia menarik perahu ke tepi, mengikatnya kembali ke tiang dermaga. Baru setelah itu ia menatap Pak Darmo.

"Tidak ada," jawab Kala. "Dan itu yang saya dapat."

Pak Darmo menatapnya lama. Lalu ia tersenyum tipis—senyum pertama yang Kala lihat di wajahnya. "Kalau begitu kau sudah mengerti."

"Mengerti apa?"

"Bahwa kadang kita pergi bukan untuk menemukan sesuatu, tapi untuk berhenti mencari."

Kala terdiam. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan buku catatan ayahnya. Ia menatap sampul kulit yang mengelupas itu, lalu menatap Pak Darmo lagi.

"Bapak kenal tulisan tangan ini?" Kala membuka halaman pertama, memperlihatkannya.

Pak Darmo mengambil kacamata dari kantong bajunya—kacamata baca murah dengan bingkai plastik—dan melihat tulisan itu. Matanya berkedip beberapa kali. "Ini tulisan siapa?"

"Ayah saya."

Pak Darmo menatap Kala lebih lama. "Ayahmu yang mana?"

"Yang pergi dua puluh lima tahun lalu. Yang katanya ke Jakarta tapi tidak pernah sampai."

Pak Darmo mengembalikan buku itu, melepas kacamatanya. Ia menatap pulau kecil di tengah sungai, lalu menghela napas panjang. "Banyak orang pergi ke pulau itu," katanya pelan. "Kebanyakan tidak pernah kembali. Bukan karena mereka mati. Tapi karena mereka menemukan sesuatu di sana yang membuat mereka tidak bisa kembali menjadi orang yang sama."

"Apa yang mereka temukan?"

"Diri mereka sendiri. Atau tidak ada diri sama sekali. Tergantung cara melihatnya."

Kala memasukkan buku itu kembali ke tasnya. Ia menatap sungai—airnya sudah tidak lagi bergerak aneh. Arusnya tenang, bergerak ke satu arah, seperti sungai normal pada umumnya.

"Pak Darmo," kata Kala. "Anak Bapak yang pergi dua puluh tahun lalu... dia pernah ke pulau itu?"

Pak Darmo tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan rokok lagi, menyalakannya dengan gerakan lambat. Menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke arah sungai.

"Iya," jawabnya akhirnya. "Sebelum dia pergi, dia ke pulau itu. Dia bilang mau mencari jawaban. Saya bilang jangan, tapi dia tetap pergi. Saat dia kembali, matanya beda. Seperti sudah melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata." Pak Darmo menatap Kala. "Sebulan kemudian dia pergi ke Jakarta. Tidak pernah kembali."

"Bapak tidak mencoba mencarinya?"

"Mencari orang yang tidak ingin ditemukan itu sama dengan mencoba menangkap air dengan tangan kosong." Pak Darmo tersenyum pahit. "Kau bisa mencoba, tapi air tetap akan lolos."

Kala merasa ada yang mencengkeram dadanya. Berapa banyak orang yang hilang karena pulau itu? Berapa banyak ayah, anak, saudara yang pergi dan tidak pernah kembali?

"Kenapa Bapak masih tinggal di sini?" tanya Kala. "Kenapa tidak pergi dari sini?"

"Karena kalau aku pergi, siapa yang akan menunggu dia pulang?"

Kala tidak tahu harus menjawab apa. Semua kata-kata terasa tidak cukup.

Mereka berdua terdiam, menatap sungai yang mengalir tanpa henti. Di kejauhan, burung yang tadi Kala lihat masih bertengger di tiang kayu, masih tidak bergerak, seperti patung yang menunggu sesuatu.

"Kau mau kembali ke Jakarta?" tanya Pak Darmo.

Kala menggeleng. "Tidak. Setidaknya belum."

"Mau tinggal di sini?"

"Mungkin. Beberapa bulan. Saya pikir saya perlu belajar sesuatu dari sungai ini."

Pak Darmo tersenyum tipis. "Sungai tidak mengajarkan apa-apa. Dia cuma mengalir. Tapi mungkin itulah pelajarannya."

Epilog: Tepi yang Baru

Tiga bulan kemudian.

Kala duduk di beranda rumah kayu kecil yang ia sewa di tepi sungai—bukan di kampung tempat ia lahir, tapi di kampung sebelah, sekitar lima kilometer dari dermaga Pak Darmo. Rumahnya sederhana: satu kamar, satu ruang tamu kecil, dapur seadanya. Tapi ada jendela besar yang menghadap sungai, dan itu cukup.

Di tangannya ada secangkir kopi—bukan kopi mahal dari Jakarta, tapi kopi sachetan yang dibeli di warung Pak Haji, kopi yang terlalu manis tapi entah kenapa terasa pas di pagi hari seperti ini.

Di mejanya ada tumpukan buku tulis—buku latihan anak-anak SD yang ia beli di toko kelontong. Setiap sore, lima anak dari kampung datang ke rumahnya untuk belajar. Bukan pelajaran formal—Kala bukan guru yang baik untuk itu. Ia hanya membacakan cerita untuk mereka. Kadang Virginia Woolf yang disederhanakan, kadang dongeng Nusantara, kadang cerita yang ia karang sendiri.

Anak-anak itu tidak selalu mengerti. Tapi mereka mendengarkan. Dan Kala belajar bahwa kadang mendengarkan itu cukup.

Ia membuka laptop tuanya—laptop yang sudah lima tahun tidak ia hidupkan. Ia membuka dokumen kosong, menatap kursor yang berkedip.

Apa yang akan kau tulis? tanya suara di kepalanya. Kau sudah tidak menulis apa-apa selama bertahun-tahun.

Tapi kali ini Kala tidak takut dengan halaman kosong. Ia mulai mengetik—pelan, satu kata demi satu kata, tanpa tahu akan jadi apa tulisan ini. Seperti sungai yang mengalir tanpa tahu akan sampai di mana.

"Sungai ini ingat padaku, tapi aku tidak yakin aku ingat padanya..."

Ia berhenti sejenak, tersenyum. Lalu ia menghapus kalimat itu, menulis yang baru:

"Sungai ini tidak ingat padaku. Aku juga tidak ingat padanya. Tapi kami ada di sini, pada saat yang sama, dan itu cukup."

Suara perahu terdengar dari kejauhan. Kala menoleh—Pak Darmo sedang mendayung perahunya, jala di punggung, seperti biasa. Ia melihat Kala, melambaikan tangan. Kala membalas lambaian itu.

Mereka tidak pernah lagi membicarakan pulau itu. Tidak pernah lagi membicarakan orang-orang yang hilang. Tapi kadang, saat matahari terbenam dan sungai berubah warna menjadi oranye keemasan, mereka duduk bersama di dermaga, minum kopi sachetan, dan diam-diam saja.

Keheningan yang nyaman. Keheningan yang tidak perlu diisi dengan jawaban.

Suatu sore, Kala membawa foto polaroid itu ke dermaga. Foto laki-laki yang sudah hampir sepenuhnya memudar. Ia menatapnya lama, mencoba mengingat wajah di sana, tapi sudah tidak bisa lagi.

"Sudah waktunya," gumam Kala pada dirinya sendiri.

Ia berdiri di tepi dermaga, menggenggam foto itu di tangan. Lalu ia melemparnya ke sungai.

Foto itu jatuh ke permukaan air, mengapung sebentar—seperti masih ragu—lalu perlahan mulai tenggelam. Kala menatapnya sampai benar-benar hilang ditelan arus.

Ia tidak merasa sedih. Juga tidak merasa lega. Ia hanya merasa kosong—tapi kosong dalam artian yang baik, seperti gelas yang sudah dikosongkan agar bisa diisi dengan sesuatu yang baru.

Pak Darmo datang menghampiri. "Siapa itu tadi?"

"Seseorang yang dulunya penting," jawab Kala. "Tapi sekarang sudah tidak lagi."

"Kau yakin?"

Kala menatap sungai—airnya yang cokelat kehijauan, arusnya yang tenang, tidak lagi galau seperti dulu. "Tidak. Tapi saya rasa tidak apa-apa tidak yakin."

Pak Darmo tersenyum. "Kau belajar cepat."

"Saya belajar dari sungai."

"Sungai tidak mengajar apa-apa."

"Ya," Kala tersenyum. "Itulah yang ia ajarkan."

Mereka berdua terdiam lagi, menatap matahari yang mulai turun. Cahaya oranye memantul di permukaan air, membuat sungai terlihat seperti terbuat dari api cair.

Kala teringat kata-kata Virginia Woolf yang ia baca berulang kali: "The great revelation perhaps never did come. Instead, there were little daily miracles."

Mungkin ini adalah keajaiban kecil itu. Bukan jawaban besar. Bukan epifani dramatis. Hanya sore hari di tepi sungai, bersama orang asing yang entah kenapa terasa seperti teman lama, menatap air yang mengalir tanpa tujuan tapi entah kenapa terasa indah.

Kala tidak menemukan apa yang ia cari. Tapi ia menemukan cara untuk berhenti mencari. Dan mungkin itu cukup.

Atau mungkin tidak cukup. Tapi ia akan terus berada di sini, di tepi sungai ini, mengalir bersama arus, tanpa tahu akan sampai di mana.

Seperti air.

Seperti waktu.

Seperti semua hal yang tidak bisa ditangkap tapi tetap nyata.


Catatan Penulis:

Cerpen ini terinspirasi dari eksplorasi awal tentang stream of consciousness dan metafora sungai, serta teknik naratif dari Virginia Woolf yang mengalirkan kesadaran tokoh tanpa batas jelas antara pikiran dan realitas. Gaya penulisan mencoba memadukan introspeksi filosofis ala Woolf, detail mundane yang surreal dari Haruki Murakami, dan kedalaman metafisika yang konkret dari Dee Lestari.

Sungai dalam cerita ini bukan sekadar setting, tapi karakter—entitas yang hidup, mengalir, dan mengubah siapa pun yang terlalu lama menatapnya. Seperti dalam kehidupan nyata, kadang kita mencari jawaban tapi yang kita temukan adalah pertanyaan yang lebih dalam. Dan kadang, itu sudah cukup.