Mangkuk di Tengah Malam
Sebuah cerpen tentang cinta yang terlewatkan dan mangkuk-mangkuk yang tak terhitung
Bagian I: Hujan di Apartemen Lantai Tujuh
Rina duduk di meja makan dengan mangkuk keramik putih di hadapannya. Uap masih mengepul tipis dari permukaan kuah, membentuk spiral-spiral kecil yang menghilang begitu menyentuh udara dingin apartemen. Mie instan merek Indomie goreng—yang sama seperti yang selalu dibeli Ibu dulu untuk persediaan darurat. Bukan untuk dimakan, kata Ibu. Hanya kalau benar-benar terpaksa.
Tapi malam ini, Rina tidak tahu harus memasak apa lagi.
Pintu apartemen sudah ditutup keras sepuluh menit lalu. Maya—putrinya yang berusia tujuh belas tahun—pergi dengan tas ransel di punggung dan wajah yang merah padam. Rina masih bisa mendengar gema suara putrinya: "Ibu nggak pernah ngerti!" Kalimat yang sama persis yang pernah Rina teriakkan dua puluh lima tahun lalu.
Hujan mulai turun. Rintik-rintik dulu, lalu semakin deras. Dari jendela lantai tujuh, Jakarta malam hari terlihat seperti lukisan cat air yang luntur—lampu-lampu jalan berpendar oranye, gedung-gedung menjadi siluet hitam, dan di kejauhan, billboard iklan berkedip dengan ritme yang tidak teratur.
Rina mengambil sumpit. Mie-nya sudah mulai mengembang, menyerap kuah sampai lembek. Dia membiarkannya. Entah kenapa, malam ini dia tidak lapar. Atau mungkin terlalu lapar, sampai tidak tahu lagi apa artinya lapar.
Bagian II: Kedai yang Nyaris Tak Terlihat
Dua puluh lima tahun lalu, Rina juga berjalan dalam hujan.
Dia ingat—atau mengira ingat—bahwa malam itu adalah bulan Juni. Musim hujan. Udara berbau aspal basah dan sampah yang menggenang di got. Rina berusia tujuh belas tahun, sama seperti Maya sekarang. Dia baru saja keluar dari rumah setelah bertengkar dengan Ibu. Tentang apa? Rina tidak begitu ingat lagi detailnya—hanya ingat kemarahan yang membakar dada, perasaan dikhianati, keyakinan absolut bahwa dia benar dan Ibu salah.
Dia berjalan tanpa arah. Tidak membawa dompet, tidak membawa payung. Hanya kaus oblong dan celana jeans yang mulai basah kuyup. Kakinya membawanya ke Jalan Sabang, kawasan yang ramai dengan kedai-kedai makan malam. Lampu-lampu kuning dari warung tenda memantul di genangan air. Asap mengepul dari wajan-wajan besar. Aroma bawang putih ditumis, kecap manis, dan mie yang baru direbus memenuhi udara.
Rina berhenti di depan sebuah kedai kecil. Bukan yang paling ramai. Malah nyaris tersembunyi di antara dua toko yang sudah tutup. Hanya ada tiga meja plastik, satu kompor gas, dan seorang perempuan paruh baya yang sedang mengaduk kuah di panci besar.
"Mau pesan, Dek?" tanya perempuan itu tanpa mengangkat kepala.
Rina diam. Dia meremas ujung kausnya yang basah. Perutnya berbunyi, tapi mulutnya tidak bisa bicara.
Perempuan itu akhirnya mendongak. Matanya kecil, lelah, tapi ada kehangatan di sana—atau mungkin Rina hanya ingin percaya ada kehangatan.
"Belum makan ya? Duduk dulu. Basah kuyup gitu."
Rina tidak ingat apakah dia menjawab atau tidak. Yang dia ingat adalah duduk di kursi plastik merah yang retak, melihat perempuan itu memasukkan seikat mie kuning ke air mendidih, memecahkan telur dengan satu tangan, menuangkan kuah kaldu ayam ke mangkuk keramik yang sudah retak di satu sisi.
"Nggak usah bayar," kata perempuan itu sambil meletakkan mangkuk di depan Rina. "Kamu kelihatan butuh makan."
Momen Kehangatan yang Asing
Rina menatap mangkuk itu. Uap naik perlahan. Ada irisan daun bawang, sedikit bawang goreng, dan telur setengah matang yang kuningnya masih cair. Sangat sederhana. Tapi entah kenapa, sesuatu di dalam dadanya runtuh.
Dia mulai menangis. Tidak tahu kenapa. Atau tahu, tapi tidak mau mengakui.
"Kenapa nangis? Kuahnya kepedasan?" Perempuan itu tersenyum tipis. Bukan mengejek. Hanya... paham.
"Orang yang baru saya kenal saja bisa kasih saya makan," bisik Rina sambil mengelap mata dengan punggung tangan. "Tapi Ibu saya... tadi kami berantem. Dia bilang saya... dia bilang..."
Dia tidak melanjutkan. Kata-kata ibunya masih nyangkut di tenggorokan seperti tulang ikan.
Perempuan itu duduk di kursi seberang. Tangannya yang kasar—bekas luka bakar di beberapa tempat, kuku pendek dan hitam—melipat di atas meja.
"Kamu tahu berapa kali ibumu masak buat kamu?" tanyanya pelan. "Dari kamu kecil sampai sekarang. Setiap hari. Tiga kali sehari. Kadang lebih. Itu berapa mangkuk?"
Rina terdiam.
"Tapi untuk satu mangkuk dari orang asing, kamu nangis sampai kayak gini." Perempuan itu berdiri, kembali ke kompor. "Lucu ya, manusia."
Bagian III: Pulang ke Rumah yang Gelap
Rina menghabiskan mie-nya dalam diam. Rasanya biasa saja—tidak istimewa. Tapi setiap suapan terasa berat, seperti menelan sesuatu yang lebih dari sekadar mie dan kuah.
Ketika dia berdiri untuk pergi, perempuan itu melambaikan tangan tanpa berbalik. "Hati-hati di jalan."
Rina berjalan pulang dalam hujan yang sudah mereda. Langkahnya lambat. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakannya ketika bertemu Ibu. Maaf terasa terlalu kecil. Aku salah terasa terlalu sederhana. Aku mencintaimu—tidak, itu terlalu besar untuk diucapkan pada usia tujuh belas tahun.
Ketika sampai di rumah, pintu tidak terkunci. Lampu ruang makan menyala. Ibu duduk di sana, masih dengan celemek batik yang sama, rambut diikat asal. Ada piring nasi dan sayur di atas meja. Masih hangat. Ditutup tudung saji plastik.
"Sudah pulang?" Ibu tidak menatapnya. Hanya membuka tudung saji. "Makan dulu. Nanti dingin."
Rina berdiri di ambang pintu. Bajunya masih basah. Rambutnya menetes air hujan ke lantai. Dia ingin mengatakan sesuatu—banyak hal—tapi yang keluar hanya, "Iya, Bu."
Mereka tidak memeluk. Tidak ada permintaan maaf yang eksplisit. Hanya Rina yang duduk dan mulai makan, dan Ibu yang duduk di seberang sambil memotong-motong cabai rawit untuk sambal besok pagi. Ritual yang biasa. Cinta yang tidak pernah bersuara keras, tapi ada di setiap potongan cabai, setiap tudung saji, setiap lampu yang tetap menyala sampai anak pulang.
Bagian IV: Sepuluh Tahun Tanpa Lampu yang Menyala
Ibu meninggal sepuluh tahun lalu. Kanker pankreas stadium empat. Dari diagnosis sampai kematian hanya empat bulan. Terlalu cepat untuk persiapan. Terlalu cepat untuk kata-kata yang tertunda.
Rina ingat hari-hari terakhir di rumah sakit. Ibu sudah tidak bisa makan lagi. Tubuhnya menyusut sampai tinggal tulang dan kulit. Tapi matanya masih tajam, masih mengamati Rina dengan cara yang sama seperti dulu.
"Maya sudah makan?" itu yang selalu ditanyakan Ibu. Bukan kamu sudah makan? Tapi Maya, cucu perempuannya yang waktu itu baru tujuh tahun.
"Sudah, Bu. Saya masakin."
"Jangan lupa sayurnya. Anak kecil harus banyak makan sayur."
Rina mengangguk. Dia ingin mengatakan banyak hal. Terima kasih sudah memasak untukku selama dua puluh tujuh tahun. Terima kasih sudah menungguku pulang setiap malam. Terima kasih sudah tidak pernah benar-benar marah meskipun aku sering menyakitimu.
Tapi yang keluar hanya, "Ibu istirahat ya."
Dua hari kemudian, Ibu meninggal dalam tidur. Tanpa sempat mengatakan selamat tinggal. Atau mungkin sudah mengatakan, lewat cara-cara yang tidak Rina pahami waktu itu.
"Cinta terbesar sering kali adalah yang paling sunyi. Ia tidak berteriak, tidak minta diakui. Ia hanya ada, seperti udara yang kita hirup tanpa sadari."
Bagian V: Telepon yang Tidak Berdering
Rina mengangkat sumpit lagi. Mie-nya sudah benar-benar lembek sekarang, hampir hancur. Dia memasukkan satu suap ke mulut. Teksturnya seperti bubur, rasa MSG-nya terlalu kuat, tidak ada kehangatan—hanya mekanis, fungsional, sesuatu yang mengisi perut tapi tidak mengenyangkan jiwa.
Teleponnya tergeletak di samping mangkuk. Layarnya gelap. Tidak ada pesan dari Maya. Sudah empat puluh menit.
Rina membayangkan putrinya sekarang—mungkin sedang berjalan dalam hujan, seperti dirinya dulu. Mungkin duduk di kedai Indomie pinggir jalan, mungkin menangis, mungkin marah, mungkin keduanya sekaligus. Rina ingin menelepon, tapi tangannya tidak bergerak. Bagaimana cara mengatakan maaf ketika kamu bahkan tidak yakin apa kesalahanmu?
Mereka bertengkar karena hal sepele—Maya ingin ikut konser musik sampai larut malam, Rina tidak mengizinkan. Lalu Maya mengatakan Rina terlalu mengekang, tidak pernah mengerti, selalu menganggap Maya masih anak kecil. Dan Rina—karena lelah, karena sendirian mengurus semuanya sejak suaminya meninggal, karena takut kehilangan satu-satunya orang yang tersisa—membentak balik.
"Kamu pikir gampang jadi ibu? Kamu pikir aku nggak capek?"
Dan Maya menjawab dengan mata berkaca-kaca, "Kalau capek ya bilang aja. Aku nggak minta dilahirin juga."
Pintu dibanting. Rina terduduk di sofa. Menangis sejadi-jadinya.
Ketika Siklus Berulang
Sekarang, duduk di depan mangkuk mie yang dingin, Rina mengerti. Dia mengerti kenapa Ibu dulu tidak pernah mengatakan maaf dengan kata-kata. Karena maaf terlalu kecil untuk menampung semua yang ingin dikatakan. Karena sebagai ibu, kamu tidak pernah benar-benar tahu apakah yang kamu lakukan itu benar atau salah—kamu hanya melakukan yang terbaik yang kamu bisa, dengan keterbatasan dan ketakutanmu sendiri.
Rina teringat sebuah artikel yang pernah dibacanya tentang bagaimana memori manusia bekerja—bahwa kita tidak benar-benar mengingat kejadian, tapi mengingat versi terakhir kita mengingat kejadian itu. Setiap kali kita mengingat, kita merekonstruksi. Menambah, mengurangi, mengubah. Apakah kedai mie itu benar-benar ada? Apakah perempuan itu benar-benar mengatakan hal itu? Atau Rina yang membuat cerita itu untuk dirinya sendiri, untuk memberi makna pada kepulangannya?
Tidak penting lagi. Yang penting adalah: dia pulang. Dan Ibu menunggunya dengan lampu yang menyala dan nasi yang masih hangat.
Sekarang giliran Rina yang menunggu.
Bagian VI: Mangkuk yang Tak Terhitung
Rina mencoba mengingat berapa kali Ibu memasak untuknya. Tiga kali sehari, setiap hari, selama... dua puluh tujuh tahun sampai Rina menikah dan pindah. Itu sekitar 29.565 kali. Belum termasuk camilan, makanan sakit, makanan tengah malam ketika Rina belajar untuk ujian.
Berapa kali Rina mengatakan terima kasih? Dia tidak ingat. Mungkin tidak pernah.
Karena kita tidak berterima kasih pada udara yang kita hirup. Kita tidak berterima kasih pada jantung yang berdetak sendiri. Kita tidak berterima kasih pada hal-hal yang selalu ada—sampai tidak ada lagi.
Teleponnya tiba-tiba bergetar.
Rina hampir menjatuhkan sumpit. Dia meraih telepon dengan tangan yang gemetar. Nama Maya muncul di layar.
Tapi bukan panggilan telepon. Hanya pesan teks. Singkat.
"Di rumah Tante Lisa. Malem ini nginep di sini."
Rina menatap layar. Tangannya ingin mengetik banyak hal. Pulang ya, Sayang. Ibu nggak marah. Ibu cuma khawatir. Ibu cinta kamu. Tapi jari-jarinya hanya mengetik, "Oke. Jaga diri. Ada nasi goreng di kulkas kalau kamu laper nanti."
Dia menekan kirim. Lalu meletakkan telepon.
Di luar, hujan masih turun. Rina kembali menatap mangkuknya. Mie-nya sudah dingin sempurna sekarang. Tidak ada lagi uap. Hanya mangkuk keramik putih dengan sisa kuah yang mengental di dasar.
Dia mengangkat mangkuk itu dan membawanya ke dapur. Menuangkan isinya ke tempat sampah. Mencuci mangkuk sampai bersih. Lalu dia membuka kulkas dan mengeluarkan telur, sawi, bawang putih, kecap manis.
Rina mulai memasak. Bukan untuk malam ini—Maya tidak akan pulang. Tapi untuk besok pagi. Untuk ketika Maya pulang. Untuk nasi goreng yang akan Rina masukkan ke wadah plastik, tutup rapat, dan simpan di kulkas. Mungkin Maya akan memakannya, mungkin tidak. Tapi itu tidak penting.
Yang penting adalah: mangkuk itu ada. Ketika seseorang akhirnya lapar, ketika seseorang akhirnya pulang.
Epilog: Lampu yang Tetap Menyala
Dua hari kemudian, Maya pulang.
Pintu terbuka pelan. Sudah sore. Rina sedang duduk di sofa, pura-pura membaca buku. Sebenarnya dia sudah mendengar langkah kaki Maya dari tangga darurat.
"Ibu," panggil Maya pelan.
Rina mendongak. Maya berdiri di ambang pintu dengan tas ransel di punggung, mata sembab, dan wajah yang lebih lelah dari yang seharusnya dimiliki seorang remaja tujuh belas tahun.
"Sudah pulang?" Rina berusaha menjaga suaranya tetap datar. "Makan dulu. Ada nasi goreng di kulkas. Ibu hangatkan ya."
Dia berjalan ke dapur tanpa menunggu jawaban. Mengeluarkan wadah plastik, menuangkan nasi goreng ke piring, memasukkannya ke microwave. Suara denging microwave mengisi kesunyian. Rina berdiri membelakangi ruang makan, menatap pintu microwave yang berputar, menghitung detik.
Ketika dia berbalik dengan piring di tangan, Maya sudah duduk di meja makan. Tidak mengatakan apa-apa. Hanya duduk dengan tangan dilipat di atas meja, seperti anak kecil yang menunggu makan malam.
Rina meletakkan piring di depan putrinya. Lalu duduk di seberang. Mereka tidak saling menatap. Hanya ada suara sendok yang menyentuh piring, kunyahan pelan, dan hujan yang mulai turun lagi di luar.
"Enak," bisik Maya akhirnya.
"Telurnya kebanyakan," jawab Rina. "Lain kali Ibu kurangin."
"Nggak. Enak gini."
Mereka diam lagi. Tapi kali ini, kesunyian itu berbeda. Bukan kesunyian yang dingin, tapi kesunyian yang hangat—seperti selimut, seperti pelukan, seperti rumah.
Maya menghabiskan nasi gorengnya. Lalu dia berdiri, membawa piring ke wastafel, mencucinya sendiri. Rina tidak menyuruh. Maya tidak minta disuruh. Mereka hanya bergerak dalam koreografi yang sudah dipelajari bertahun-tahun—tarian kecil ibu dan anak yang tidak perlu kata-kata.
"Ibu," panggil Maya dari wastafel.
"Iya?"
"Maaf."
Rina menoleh. Maya masih membelakanginya, sibuk mengelap piring dengan lap yang sudah kusam.
"Ibu juga minta maaf," kata Rina pelan. "Ibu... kadang Ibu nggak tahu caranya. Jadi ibu. Untuk kamu."
Maya meletakkan piring di rak. Lalu berbalik. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tersenyum—senyum tipis yang rapuh tapi nyata.
"Ibu udah baik kok. Aku yang... aku yang nggak tahu cara bilang terima kasih."
Mereka tidak berpelukan. Tidak ada adegan dramatis. Hanya Maya yang kembali ke kamarnya dengan langkah ringan, dan Rina yang duduk sendirian di meja makan, menatap piring yang masih ada sisa nasi goreng sedikit di sudutnya.
Dia mengambil piring itu dan menghabiskan sisanya. Dingin. Agak keras. Tapi entah kenapa, itu adalah nasi goreng paling enak yang pernah Rina makan.
Di suatu tempat di Jakarta, mungkin masih ada kedai kecil dengan tiga meja plastik dan perempuan paruh baya yang memasak mie untuk orang asing yang lapar. Atau mungkin tidak. Mungkin kedai itu tidak pernah ada. Mungkin itu hanya cerita yang kita ceritakan pada diri sendiri agar bisa pulang.
Tapi mangkuk-mangkuk itu nyata. Setiap hari. Tiga kali sehari. Selama bertahun-tahun. Mangkuk-mangkuk yang tidak pernah kita hitung sampai sudah tidak ada lagi yang mengisinya.
Dan mungkin, cinta terbesar adalah cinta yang tidak pernah minta dihitung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar