Membaca Bayangan: Sebuah Personal Naratif Kajian terhadap "Zenith"
I. Pertemuan dengan Teks
Pukul dua pagi, laptop saya menyala di meja kerja yang berantakan. Secangkir kopi yang saya seduh sejak pukul sebelas sudah dingin, tapi saya tidak peduli. Saya baru saja selesai membaca "Zenith"—sebuah cerita pendek yang seharusnya saya baca sebagai tugas membaca ringan sebelum tidur. Tapi ada tulisan yang membaca kita lebih dulu sebelum kita selesai membacanya. Dan "Zenith" adalah salah satunya.
Jari saya langsung membuka tab baru. Google: "jadwal kulminasi Matahari 2025 Jakarta". Hasilnya muncul—data dari BMKG tentang fenomena hari tanpa bayangan. Saya menatap angka-angka di layar, lalu menatap bayangan tangan saya di atas keyboard. Gelap. Jelas. Ada.
Entah kenapa, saya merasa lega.
Ini bukan resensi. Saya tidak akan memberi tahu Anda apakah cerita ini "bagus" atau "layak dibaca"—karena pertanyaan seperti itu terlalu sederhana untuk teks yang kompleks. Ini adalah percakapan. Percakapan antara saya sebagai pembaca yang tiba-tiba merasa dilihat oleh teks yang seharusnya saya yang melihat.
"Zenith" adalah cerita tentang Arjuna, seorang juru arsip di Yogyakarta, yang kehilangan bayangannya ketika Matahari mencapai titik puncak—zenith—pada pukul 11:24 WIB. Dalam beberapa menit itu, bayangan menghilang. Dan Arjuna merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar fenomena fisika: ia merasa sedang lenyap.
Tapi ini bukan cerita fantasi. Ini cerita realis yang menggunakan fenomena astronomis nyata sebagai metafora untuk sesuatu yang jauh lebih dalam: krisis representasi diri dalam era di mana jejak digital berlimpah tapi makna eksistensial menipis. Apa yang terjadi ketika kita kehilangan bayangan kita—baik literal maupun metaforis? Apa yang tersisa dari kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini yang membuat saya tidak bisa tidur malam itu.
II. Anatomi Bayangan: Membedah Struktur dan Metafora
Arsitektur Naratif
Saya membaca ulang "Zenith" keesokan paginya dengan mindset yang berbeda—kali ini sebagai peneliti, bukan hanya pembaca. Saya mencatat strukturnya: empat bagian dengan panjang yang tidak seimbang, ditambah epilog. Bagian I adalah kehilangan, Bagian II adalah pemahaman, Bagian III adalah rekonsiliasi, Bagian IV adalah tindakan. Ada ritme di sana. Ada perjalanan yang terukur.
Yang menarik adalah bagaimana setiap bagian dimulai dengan deskripsi cahaya atau ketiadaannya. Bagian I: "Matahari berdiri tegak di puncak langit". Bagian II: "Museum Sonobudoyo berdiri seperti candi kecil yang lupa waktu" dengan "koridor yang sejuk". Bagian III: "kota mulai bergerak lagi". Bagian IV: "Malam itu". Cahaya bergerak dari terik maksimal ke kegelapan total—dan dalam perjalanan itu, Arjuna juga bergerak.
Struktur ini mengingatkan saya pada pathet dalam pertunjukan wayang: pathet nem (sore, penuh konflik), pathet sanga (malam, klimaks), pathet manyura (tengah malam menuju fajar, resolusi). Apakah penulis sengaja menggunakan struktur wayang? Entahlah. Tapi fakta bahwa wayang menjadi motif sentral dalam cerita membuat saya percaya ini bukan kebetulan.
Fenomena Zenith sebagai Metafora Pusat
Mari kita bicara tentang sains dulu. Kulminasi utama Matahari—atau yang populer disebut "hari tanpa bayangan"—terjadi ketika Matahari tepat berada di titik zenith, 90 derajat dari permukaan bumi. Ini terjadi dua kali setahun di wilayah tropis antara garis balik utara dan selatan. Di Yogyakarta, fenomena ini terjadi sekitar Oktober dan Februari. Fenomena ini nyata, terukur, bisa diprediksi.
Tapi dalam "Zenith", fenomena fisika ini menjadi metafora berlapis. Pertama, secara literal: tidak ada bayangan berarti tidak ada jejak visual keberadaan kita di dunia. Kedua, secara psikologis: momen tanpa bayangan adalah momen tanpa referensi eksternal—kita tidak bisa melihat "bentuk" diri kita melalui refleksi atau proyeksi. Ketiga, secara sosial: ketika validasi eksternal hilang (likes, followers, pengakuan), siapa kita sebenarnya?
Ada satu kalimat dalam teks yang membuat saya berhenti:
"Tanpa bayangan, tubuhnya terasa seperti kalimat tanpa tanda baca—terus menerus tanpa jeda untuk bernapas."
Kalimat ini brilian karena ia tidak menjelaskan—ia menunjukkan. Bayangan bukan sekadar visual marker. Bayangan adalah punctuation dari eksistensi kita. Tanpa bayangan, kita jadi run-on sentence: ada, tapi tidak terbaca.
Saya mulai menghubungkan ini dengan pengalaman modern. Apa yang terjadi ketika akun media sosial kita di-suspend? Ketika data kita hilang? Ketika foto-foto lama terhapus? Kita merasa seperti sebagian dari diri kita—atau setidaknya sebagian dari cerita kita—ikut lenyap. Jejak digital kita adalah bayangan kita di era ini. Dan seperti bayangan fisik, ia bisa hilang.
Wayang sebagai Framework Filosofis
Scene di Museum Sonobudoyo adalah jantung intelektual dari cerita ini. Di sini, Pak Hasan—seorang penjaga museum tua—menjelaskan filosofi wayang kepada Arjuna dan Sari:
"Dalam tradisi wayang, pertunjukan tidak terjadi di panggung. Pertunjukan terjadi di bayangan. Dalang duduk di belakang layar, memainkan wayang, dan yang penonton lihat adalah bayang-bayangnya—siluet yang hidup, bercerita, bertarung, mati, dan kadang, hidup lagi."
Ini adalah momen aha dalam teks. Wayang kulit—salah satu tradisi paling tua di Jawa—adalah seni tentang bayangan. Boneka kulit yang dipahat dengan indah sebenarnya tidak pernah dilihat oleh penonton. Yang dilihat adalah bayangannya di layar putih. Representasi, bukan realitas.
Konsep ini bergema dengan alegori gua Plato—manusia di dalam gua yang hanya melihat bayangan di dinding, mengira itu realitas. Tapi dalam konteks Jawa, ada twist: bayangan adalah pertunjukan. Bayangan bukan distorsi dari kebenaran; bayangan adalah medium di mana kebenaran diceritakan.
Pak Hasan kemudian menunjukkan wayang punakawan—tokoh kecil, pelayan—dan meletakkannya di depan lampu minyak. Bayangannya jatuh di dinding, besar, memenuhi ruangan. "Wayang ini kecil," katanya. "Tapi bayangannya bisa mengisi seluruh dinding."
Ini adalah kritik halus terhadap bagaimana kita mengukur nilai: bukan dari ukuran "asli" kita, tapi dari posisi kita terhadap cahaya. Di era media sosial, ini sangat relevan. Seseorang dengan platform kecil bisa punya pengaruh besar jika mereka berdiri di tempat yang tepat. Sebaliknya, orang dengan privilege besar bisa punya dampak minimal jika mereka tidak tahu cara menggunakan cahaya mereka.
Tapi wayang juga mengajarkan sesuatu yang lebih gelap: bayangan bisa menipu. Bayangan bisa membuat sesuatu yang kecil terlihat besar, atau sesuatu yang kompleks terlihat sederhana. Dan di sinilah karakter Sari masuk.
III. Topografi Karakter: Tiga Manusia dan Tiga Krisis
Arjuna: Manusia Bayangan
Nama "Arjuna" bukan kebetulan. Dalam Mahabharata, Arjuna adalah pahlawan yang paling manusiawi—selalu dilema, selalu bertanya, selalu terbelah antara dharma dan keinginan pribadi. Arjuna dalam "Zenith" mewarisi dilema yang sama: ia seorang juru arsip yang menghabiskan hidupnya mengkatalog jejak orang lain, tapi tidak pernah meninggalkan jejak sendiri yang ia anggap bermakna.
Ada yang tragis di sini. Profesi arsiparis adalah profesi tentang memori—menjaga agar jejak tidak hilang. Tapi Arjuna sendiri merasa seperti orang tanpa jejak. Ia hidup di bayangan ayahnya, yang juga seorang arsiparis, yang juga meninggal tanpa meninggalkan apa-apa kecuali kardus-kardus dokumen yang "tidak ada yang peduli".
Ketika bayangan fisiknya hilang pada pukul 11:24, Arjuna berpikir: "Aku sedang menghilang." Bukan "bayanganku menghilang"—tapi "aku sedang menghilang". Identitas dan bayangan sudah menjadi satu. Ini adalah imposter syndrome dalam bentuk paling ekstrem: perasaan bahwa kamu tidak benar-benar ada, hanya... berpura-pura ada.
Saya mengenali Arjuna. Bukan karena saya juru arsip, tapi karena saya juga pernah merasa seperti orang yang hanya... ada di latar belakang. Seperti ekstra dalam film orang lain. Dan mungkin itu yang membuat karakter ini bekerja: ia tidak heroik, tidak istimewa. Ia adalah kita di hari-hari ketika kita merasa tidak cukup.
Tapi arc-nya tidak melodramatis. Tidak ada momen katarsis yang besar. Transformasinya terjadi perlahan: dari "Aku sedang menghilang" di awal, ke "Aku bukan bayanganku. Tapi aku juga tidak lengkap tanpa bayangan itu" di warung kopi, sampai keputusan untuk pergi ke Semarang mengambil arsip ayahnya. Ia tidak tiba-tiba jadi hero. Ia hanya... memutuskan untuk berdiri.
Sari: Krisis Tanggung Jawab Naratif
Jika Arjuna adalah orang yang takut tidak meninggalkan jejak, Sari adalah orang yang takut pada jejak yang sudah ia tinggalkan. Ia seorang fotografer yang lima tahun lalu mengambil foto seorang politisi korup. Foto itu viral. Karier politisi itu hancur. Politisi itu bunuh diri.
"Aku pikir aku pahlawan," kata Sari. "Aku pikir aku sedang menerangi kegelapan. Tapi ternyata... aku hanya membuat bayangan yang salah. Aku membuat monster dari manusia yang memang bersalah, tapi masih manusia."
Ini adalah dilema yang sangat kontemporer. Di era di mana setiap orang bisa membuat konten viral, di mana cancel culture beroperasi dengan kecepatan cahaya, pertanyaan Sari adalah pertanyaan kita semua: Di mana batas antara akuntabilitas dan penghakiman? Kapan exposé menjadi eksekusi publik?
Yang membuat Sari menarik adalah ia tidak mencari pembenaran. Ia tidak bilang "politisi itu pantas". Ia mengakui kompleksitas: ya, orang itu bersalah. Tapi ia juga manusia. Dan narasi yang Sari ciptakan melalui foto itu—narasi tentang monster—mungkin terlalu sederhana untuk menangkap kompleksitas itu.
Fotografer adalah pembuat bayangan profesional. Mereka memilih sudut, cahaya, framing—dan dalam proses itu, mereka menciptakan representasi yang mungkin lebih powerful dari realitas. Sari belajar—dengan cara yang pahit—bahwa bayangan yang kita ciptakan punya konsekuensi nyata.
Ketika bayangannya kembali setelah kulminasi berakhir, Sari mengatakan sesuatu yang mengejutkan: ia merasa lebih bebas dengan adanya bayangan. "Karena aku tahu aku bisa kehilangannya dan tetap... ada. Aku bukan bayanganku."
Ini adalah acceptance yang matang. Bukan denial ("bayangan tidak penting"), bukan juga identifikasi total ("aku adalah bayanganku"). Tapi sintesis: bayangan adalah bagian dari kita, tapi bukan seluruh kita.
Pak Hasan: Wisdom tanpa Pretensi
Pak Hasan mudah sekali jadi karakter klise: lelaki tua bijak yang memberi nasihat. Tapi penulis menghindari jebakan itu dengan satu trik sederhana: Pak Hasan tidak banyak bicara. Ia membiarkan objek—wayang, blencong—yang berbicara.
Ketika Arjuna bertanya "apa yang terjadi kalau kita tidak pernah meninggalkan bayangan yang berarti?", Pak Hasan tidak menjawab dengan khotbah. Ia menyalakan lampu minyak, meletakkan wayang kecil di depannya, dan membiarkan Arjuna melihat sendiri: bayangan yang besar, yang mengisi dinding.
Ini adalah pedagogi yang baik. Tidak menjelaskan, tapi menunjukkan. Tidak memberi jawaban, tapi membuka ruang untuk penemuan.
Yang membuat Pak Hasan kredibel adalah ia juga tidak idealis. Ketika Sari berbicara tentang bagaimana ia membuat "bayangan yang salah", Pak Hasan tidak bilang "bayangan tidak pernah salah" atau memberikan platitude lainnya. Ia bilang: "Bayangan bukan benar atau salah. Bayangan adalah... interpretasi."
Ini adalah wisdom yang tidak menghibur tapi jujur. Dan kadang, kejujuran lebih berharga daripada kenyamanan.
IV. Yogyakarta sebagai Ruang Liminal
Penulis memilih Yogyakarta bukan kebetulan. Ini adalah kota yang hidup dari bayangannya—bayangan masa lalu, bayangan kerajaan, bayangan sebagai "kota budaya". Setiap sudut kota ini adalah palimpsest: lapisan sejarah yang bertumpuk. Malioboro dengan pedagang kakilima dan gedung-gedung kolonial. Museum Sonobudoyo yang menyimpan artefak keraton. Relief singa dan lambang VOC yang masih menempel di dinding.
Ketika bayangan hilang, relief di dinding VOC "kehilangan dimensinya", menjadi "datar". Ini adalah observasi yang brilian: bayangan memberi depth. Tanpa bayangan, sejarah pun jadi flat.
Ada ironi di sini. Yogyakarta adalah kota wisata yang ramai—ribuan orang datang setiap hari untuk berfoto, untuk meninggalkan jejak "pernah ke sini". Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, Arjuna mengalami krisis tentang ketiadaan jejak. Keramaian tidak menjamin makna. Visibility tidak sama dengan eksistensi.
Perjalanan Arjuna ke Semarang di akhir cerita adalah perjalanan dari public space ke private space. Dari kota wisata ke kota kelahiran. Dari tempat yang penuh orang asing ke rumah ibu. Secara geografis, ini hanya perjalanan kereta tiga jam. Tapi secara psikologis, ini adalah perjalanan pulang—tidak ke tempat, tapi ke diri sendiri.
Scene di gudang rumah ibu—ketika Arjuna menemukan buku catatan ayahnya—adalah salah satu momen paling mengharukan dalam cerita ini. Catatan harian sederhana. Tidak ada yang spektakuler. Hanya: "Arjuna lahir hari ini. Aku tidak tahu cara jadi ayah yang baik. Tapi aku akan mencoba meninggalkan sesuatu untuknya."
Jejak kecil. Tapi cukup.
V. Estetika dan Teknik: Bagaimana Teks Ini Bekerja
Prosa Puitis yang Fungsional
Ada bahaya dalam menulis prosa puitis: ia bisa jadi indah tapi kosong, seperti kemasan bagus tanpa isi. "Zenith" menghindari jebakan ini karena setiap metaforanya melayani narasi, bukan sekadar dekorasi.
Ambil contoh: "Detik-detik bergerak seperti sirup." Ini bukan hanya cara fancy untuk bilang "waktu berjalan lambat". Sirup adalah cairan yang thick, yang membuat segalanya bergerak dengan susah payah. Ketika waktu bergerak seperti sirup, kita merasakan resistensi, berat, effort dari setiap detik. Ini adalah bagaimana Arjuna merasakan waktu ketika bayangannya hilang: setiap momen adalah struggle untuk tetap nyata.
Atau ini: "Cahaya yang lewat." Frasa ini muncul beberapa kali dalam teks, seperti refrain. Pertama kali dalam konteks ayah Arjuna: "Cahaya yang lewat" tanpa meninggalkan jejak. Kedua kali dalam epilog: "Cahaya yang lewat. Tapi jejak yang tinggal." Repetisi dengan variasi ini—teknik yang sering digunakan dalam puisi—menciptakan evolusi makna. Dari pasif-nihilistik menjadi aktif-penuh harap.
Yang saya kagumi adalah penulis tahu kapan harus puitis dan kapan harus jernih. Scene di museum penuh dengan metafora dan simbolisme. Tapi scene di gudang rumah ibu—scene yang paling emosional—ditulis dengan sangat sederhana, hampir journalistic: "Arjuna membuka kardus. Di dalamnya: dokumen-dokumen tua, foto-foto keluarga yang tidak ia kenal, surat-surat tulisan tangan."
Kesederhanaan ini membuat penemuan buku catatan ayahnya jadi lebih powerful. Penulis tidak over-writing the emotion. Ia membiarkan momen berbicara sendiri.
Tempo dan Ritme
Membaca "Zenith" seperti mendengarkan musik dengan tempo yang bervariasi. Ada bagian yang lambat, kontemplartif—seperti adagio. Ada bagian yang bergerak cepat—seperti allegro. Penulis mengontrol tempo ini melalui panjang kalimat dan paragraf.
Ketika Arjuna baru menyadari bayangannya hilang, kalimatnya pendek-pendek, fragmentatif: "Arjuna membeku. Bayangannya... lenyap sama sekali." Pendek. Patah. Ini adalah tempo disorientasi.
Sebaliknya, ketika Arjuna duduk di kereta menuju Semarang, kalimatnya panjang, mengalir: "Kereta melaju menembus malam. Di luar jendela, lampu-lampu desa berkedip seperti bintang yang jatuh ke bumi." Ini adalah tempo refleksi, tempo seseorang yang sedang memproses.
Teknik ini—variasi tempo—membuat teks tidak monoton. Ia breathe. Ada ruang untuk pembaca bernapas.
VI. Resonansi Kontemporer: Mengapa Teks Ini Penting Hari Ini
Krisis Representasi di Era Digital
Ini adalah bagian di mana saya harus jujur: "Zenith" membuat saya tidak nyaman karena ia terlalu akurat dalam mendiagnosis kondisi kita hari ini.
Bayangan digital kita—profil media sosial, followers, likes, archive foto—adalah cara kita membuktikan eksistensi di abad ke-21. Ketika seseorang meninggal, yang pertama kita lihat adalah jejak digitalnya. Akun Instagram yang jadi memorial. Tweet terakhir yang jadi epitaph. Kita lebih percaya pada jejak digital daripada memori kita sendiri.
Tapi apa yang terjadi ketika jejak itu hilang? Penelitian dari Berkman Klein Center for Internet & Society di Harvard menunjukkan bahwa rata-rata orang memiliki 90 akun online yang aktif. Ketika satu platform tutup, atau akun di-suspend, kita kehilangan sebagian dari narasi diri kita. Seperti Arjuna kehilangan bayangannya.
Yang lebih menakutkan: kita mulai hidup untuk bayangan itu. Kita pergi ke tempat yang Instagrammable, bukan yang meaningful. Kita mengukur nilai pengalaman dari berapa banyak likes yang didapat, bukan dari apa yang kita rasakan. Bayangan jadi lebih penting dari tubuh.
"Zenith" tidak menghakimi ini. Teks tidak bilang "media sosial buruk" atau "teknologi membuat kita kehilangan diri". Teks hanya bertanya: Siapa kita ketika bayangan itu hilang? Dan apakah kita masih bisa berdiri tanpanya?
Jawaban teks adalah: ya, tapi tidak dengan mudah. Dan tidak sendirian.
Pencarian Makna dalam Kehidupan Biasa
Salah satu hal yang paling saya hargai dari "Zenith" adalah ia tidak mengagungkan kehidupan yang luar biasa. Arjuna bukan CEO, bukan seniman terkenal, bukan pahlawan. Ia juru arsip. Ayahnya juga juru arsip. Mereka tidak meninggalkan monumen. Tidak ada jalan yang dinamai dari nama mereka.
Tapi teks ini bilang: jejak mereka tetap berarti.
Di era yang terobsesi dengan "membuat dampak", dengan "meninggalkan legacy", dengan "mengubah dunia", "Zenith" adalah reminder yang lembut bahwa tidak semua orang harus atau bisa melakukan hal-hal besar. Dan itu tidak masalah. Jejak kecil—buku catatan harian, dokumen yang disimpan dengan rapi, percakapan dengan orang asing di warung kopi—juga adalah jejak.
Baris terakhir dari catatan ayah Arjuna: "Aku harap Arjuna tidak mengikuti jejakku. Aku harap dia menemukan cahayanya sendiri." Ini bukan kalimat seorang ayah yang merasa gagal. Ini kalimat seorang ayah yang paham: setiap orang punya cahayanya sendiri, dan bayangan yang diciptakan cahaya itu akan berbeda.
Tidak perlu besar. Cukup nyata.
Tradisi sebagai Sumber Perspektif
Saya bukan orang Jawa. Saya tidak tumbuh menonton wayang. Tapi saya memahami Pak Hasan dan filosofi yang ia sampaikan. Kenapa? Karena penulis tidak memperlakukan tradisi sebagai museum piece—sesuatu yang harus dihormati tapi tidak relevan. Penulis memperlakukan tradisi sebagai living wisdom: sesuatu yang masih bisa berbicara kepada kita hari ini.
Wayang sebagai metafora untuk kehidupan modern bekerja karena ia tidak dipaksakan. Penulis tidak bilang "kita harus kembali ke tradisi". Ia hanya menunjukkan: lihat, ada perspektif lain yang bisa membantu kita memahami krisis kita.
Ini adalah cara yang sehat untuk berhubungan dengan tradisi: bukan nostalgia, bukan juga rejection. Tapi dialog.
VII. Bayangan yang Kembali
Saya menutup laptop pukul tiga pagi hari itu. Kopi sudah habis. Mata saya perih. Tapi saya tidak langsung tidur. Saya berdiri, berjalan ke jendela, membuka tirai. Cahaya lampu jalan masuk, dan saya melihat bayangan saya di lantai. Panjang. Terdistorsi karena sudut cahaya. Tapi ada.
Saya memikirkan semua jejak yang pernah saya tinggalkan. Tulisan-tulisan yang mungkin tidak ada yang baca. Percakapan-percakapan yang mungkin sudah dilupakan orang. Keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak mengubah apa-apa dalam skema besar dunia.
Apakah itu cukup?
"Zenith" tidak memberi jawaban. Tapi ia memberi bahasa. Bahasa untuk berbicara tentang kehampaan tanpa jatuh ke nihilisme. Bahasa untuk berbicara tentang pencarian makna tanpa jatuh ke pretensi. Bahasa untuk berbicara tentang jejak kecil tanpa meremehkannya.
Teks ini bukan tentang menemukan jawaban. Teks ini tentang belajar hidup dengan pertanyaan.
Dan mungkin itu cukup. Mungkin bayangan kita tidak perlu besar atau permanen. Mungkin ia hanya perlu... ada. Bukti bahwa kita pernah berdiri di bawah matahari. Bukti bahwa kita pernah—untuk beberapa saat—nyata.
Saya tidak tahu apakah saya akan membaca "Zenith" lagi. Tapi saya tahu saya akan lebih memperhatikan bayangan saya. Bukan dengan paranoia. Tapi dengan rasa ingin tahu.
Siapa tahu apa yang akan saya temukan di sana.
Catatan: Tulisan ini adalah personal naratif kajian terhadap cerpen "Zenith" dari blog Nine Shadow Forces. Fenomena kulminasi Matahari yang menjadi latar cerita adalah fenomena astronomis nyata yang dapat dipelajari lebih lanjut melalui situs BMKG.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar