Jumat, Maret 27, 2009

Kisah Pencuri Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada
beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,
ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan
tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang
baru saja dibelinya.

Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan
begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara
mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi
keributan.

Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue
yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara
menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan
orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, Si
lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia
bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum
tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir
dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara
ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan
berpikir Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah
ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu
kesal.

Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia
mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk
menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih!".

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang
hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas
dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq
milikku ada di sini erangnya dengan patah hati, Jadi kue tadi adalah
miliknya dan ia mencoba berbagi.

Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya
dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita
sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita
sendiri.

Serta tak jarang kita berprasangka buruk. Orang lainlah yang kasar,
orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang
lainlah yang salah. Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi,
padahal kita sendiri yang tidak tahu.

Kita sering mengomentari, mencemooh pendapat atau gagasan orang lain
sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Tidak ada komentar: